Riwayat Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah
penyakit (natural history of disease) adalah deskripsi tentang perjalanan waktu
dan perkembangan penyakit pada individu, dimulai sejak terjadinya paparan
dengan agen kausal hingga terjadinya akibat penyakit, seperti kesembuhan atau
kematian, tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapeutik.
Riwayat alamiah penyakit merupakan salah satu elemen utama epidimiologi.
Riwayat alamiah suatu penyakit juga bisa dikatakan perkembangan penyakit tanpa
campur tangan medis atau bentuk intervensi (campur tangan) lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung
secara natural.
Pengetahuan tentang
riwayat alamiah penyakit sama pentingnya dengan kausa penyakit untuk upaya
pencegahan dan pengendalian penyakit. Dengan mengetahui perilaku dan
karakteristik masing-masing penyakit maka bisa dikembangkan intervensi (campur
tangan/ penanganan) yang tepat untuk mengidentifikasi maupun mengatasi problem
penyakit tersebut.
Proses interaksi penyakit
Proses interaksi penyakit
Keadaan sehat –
sakit merupakan hasil interaksi antara host-agent-environment. Pencegahan
penyakit selain informasi host-agent-environment, perlu diketahui riwayat
perkembangan penyakit. Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya individu
sebagai penjamu yang rentan. Terjadinya
tahap awal suatu hasil, dalam hal ini mempengaruhi awal terjadinya proses
patologis. Jika terdapat tempat penempelan (attachment) dan jalan masuk sel
yang tepat maka paparan dapat menyebabkan infeksi. infeksi melakukan
multiplikasi (memperbanyak tindakan) yang mendorong terjadinya proses perubahan
patologis, tanpa manusia menyadarinya. Selanjutnya berlangsung proses promosi
pada tahap preklinis, yaitu keadaan patologis yang ireversibel dan asimtomatis
ditingkatkan derajatnya menjadi keadaan dengan manifestasi kliniss
Melalui proses
promosi agen kausal akan meningkatkan aktivitasnya, masuk dalam formasi tubuh,
menyebabkan transformasi sel atau disfungsi sel, sehingga penyakit menunjukkan
tanda dan gejala klinis. Dewasa ini telah dikembangkan sejumlah tes skrining
atau tes laboratorium untuk mendeteksi keberadaan tahap preklinis penyakit.
Waktu
sejak penyakit terdeteksi oleh skrining hingga timbul manifestasi klinik,
disebut “sojourn time”, atau detectable preclinical periode makin berguna
melakukan skrining, sebab makin panjang tenggang waktu untuk melakukan
pengobatan. Waktu yang
diperlukan mulai dari paparan agen kausal hingga timbulnya manifestasi klinis disebut
masa inkubasi (infeksi). Pada fase ini penyakit belum menampakkan tanda dan
gejala klinis, disebut penyakit subklinis (asimtomatis). Masa inkubasi bisa
berlangsung dalam hitungan detik.
Selanjutnya
terjadi inisiasi penyakit klinis. Pada tahap ini mulai timbul tanda (sign) dan
gejala penyakit secara klinis, dan penjamu yang mengalami manifestasi klinis
disebut kasus klinis. Gejala klinis paling awal disebut gejala prodromal.
Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan diekspresikan hingga terjadi hasil
akhir/ resolusi penyakit, baik sembuh, remisi, perubahan beratnya penyakit,
komplikasi, rekurens, relaps, sekuelae, disfungsi sisa, cacat, atau kematian.
Periode waktu untuk mengekspresikan penyakit klinis hingga terjadi hasil akhir
penyakit disebut durasi penyakit. Kovariat yang mempengaruhi progresi ke arah
hasil akhir penyakit, disebut faktor prognostic, Penyakit penyerta yang
mempengaruhi fungsi individu.
Individu yang
terpapar belum tentu terinfeksi. Hanya jika agen kausal penyakit infeksi terpapar
pada individu lalu memasuki tubuh dan sel (cell entry), lalu melakukan
multiplikasi dan maturasi, dan menimbulkan perubahan patologis yang dapat
dideteksi secara laboratoris atau terwujud secara klinis, maka individu
tersebut dikatakan mengalami infeksi.Dalam riwayat
alamiah penyakit, proses terjadinya infeksi, penyakit klinis, maupun kematian
dari suatu penyakit tergantung dari berbagai determinan, baik intrinsik maupun
ekstrinsik, yang mempengaruhi penjamu maupun agen kausal. Tergantung tingkat
kerentanan (atau imunitas),individu sebagai penjamu yang terpapar oleh agen
kausal dapat tetap sehat, atau mengalami infeksi (jika penyakit infeksi) dan
mengalami perubahan patologi yang ireversibel (tidak bisa pulih kembali).
Tahapan riwayat alamiah penyakit
Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit merupakan suatu
bentuk dari proses perjalanan suatu penyakit yang memasuki tubuh agen,
tahapan-tahapan nya, Secara
rinci, riwayat alamiah suatu penyakit dapat digolongkan dalam 5 tahap :
1. Tahap Pre-Patogenesa
Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan
bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti
bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh
pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya
tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit,. Keadaan ini
disebut sehat.
2. Tahap Inkubasi
Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh
pejamu, tetapi gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit
mempunyai masa inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti penyakit kolera masa inkubasinya hanya 1- 2
hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 - 14 hari, tetapi ada juga yang
bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan sebagainya.
Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu
saat penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang
membatasi antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan
horison klinik.
3)
Tahapan Penyakit Dini
Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya
gejala-gejala penyakit, pada tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya
masih ringan. Umumnya penderita masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan
karena itu sering tidak berobat. Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya
tidak memerlukan perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat
jalan.
Tahap penyakit dini ini sering menjadi masalah besar dalam
kesehatan masyarakat, terutama jika tingkat pendidikan penduduk rendah, karena
tubuh masih kuat mereka tidak datang berobat, yang akan mendatangkan masalah
lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit yang di derita, sehingga saat datang
berobat sering telah terlambat.
4) Tahap Penyakit Lanjut
Apabila penyakit makin bertambah
hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit lanjut. Pada tahap ini penderita
telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang berobat, umumnya
telah memerlukan perawatan.
5) Tahap Akhir penyakit
Perjalanan penyakit pada suatu saat
akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima
keadaan, yaitu :
1.
Sembuh
sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna, artinya
bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita penyakit.
2.
Sembuh
tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh. Sayangnya
kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu.
Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang dapat
dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat fungsional, cacat
mental dan cacat sosial.
3.
Karier
: pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala penyakit
memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih ditemukan bibit
penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh berkurang,
penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri
pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena dapat menjadi sumber
penularan
4.
Kronis
: perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah,
dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan
yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu
tetap berada dalam keadaan sakit.
5.
Meninggal
dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh, tetapi
karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari
setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.
Pla perkembangan dan spektrum penyakit
Spektrum
penyakit adalah berbagai variasi tingkatan simptom dan gejala penyakit menurut
intensitas infeksi atau penyakit pada penderitanya, dari yang ringan, sedang
sampai yang berat dengan komplikasi pada organ-organ vital.
Intensitas infeksi dan derajat
penyakit bergantung kepada:
1. Agent – jenis kuman, jumlah kuman,
kualitas (virulensi kuman, toksisitas), kemampuan biologis, dsb.
2. Host manusia – umur, jenis kelamin, kondisi
fisiologis (hormonal), daya tahan tubuh, genetik, faktor gizi, lingkungan
yang melemahkan, dsb
Suatu penyakit (menular) tidak hanya
selesai sampai pada jatuh sakitnya seseorang, tetapi cenderung untuk menyebar.
Beberapa komponen dalam proses terinfeksinya penyakit ialah sebagai berikut:
1. Agent
2. Reservoir
3. Portals
of entry and exit
4. Mode of
transmission
5. Immunity
Dalam proses perjalanan penyakit, perpindahan agen dari
pejamu ke reservoir atau sebaliknya, harus melalui pintu masuk tertentu (portal
of entry) calon penderita baru dan kemudian untuk berpindah ke penderita
baru lainnya, kuman akan melalui pintu keluar (portal of exit).
Pintu masuk (Mortal of Entry)
·
Melalui
konjungtiva, yang biasanya hanya dijumpai pada beberapa penyakit mata tertentu.
·
Melalui
saluran nafas (hidung & tenggorokan): melalui droplet sewaktu reservoir/
penderita bicara, bersin, atau batuk atau melalui udara pernapasan.
·
Melalui
Pencernaan: baik bersama ludah, muntah maupun bersama tinja.
·
Melalui
saluran urogenitalia: biasanya bersama-sama dengan urine atau zat lain yang
keluar melalui saluran tersebut.
·
Melalui
lukapada kulit ataupun mukosa.
·
Secara
mekanik: seperti suntikan atau gigitan pada beberapa penyakit tertentu.
Setelah unsur penyebab telah
meninggalkan reservoir maka untuk mendapatkan potensial yang baru, harus
berjalan melalui suatu lingkaran perjalanan khusus atau suatu jalur khusus yang
disebut jalur penularan (Mode of Transmission). Secara garis besarnya, jalur penularan
(Mode of
Transimission) dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Penularan langsung: yakni penularan
yang terjadi secara langsung dari penderita atau reservoir, ke pejamu potensial
yang baru, sedangkan,
2. Penularan tidak langsung: adalah
penularan yang terjadi melalui media tertentu; seperti media udara (air
borne), melalui benda tertentu (vechicle borne), dan melalui vektor
(vector borne).
Konsep Tingkat Pencegahan Penyakit
Konsep tingkat pencegahan penyakit ialah mengambil tindakan
terlebih dahulu sebelum kejadian dengan menggunakan langkah‐langkah yang didasarkan pada data/ keterangan bersumber
hasil analisis/ pengamatan/ penelitian epidemiologi.
Tingkatan
pencegahan penyakit:
a) Pencegahan
tingkat pertama (primary prevention)
seperti
promosi kesehatan dan pencegahan khusus. Sasarannya ialah faktor penyebab,
lingkungan & pejamu. Langkah
pencegahaan di faktor penyebab misalnya,menurunkan pengaruh
serendah mungkin (desinfeksi, pasteurisasi, strerilisasi, penyemprotan
insektisida) agar memutus
rantai penularan. Langkah pencegahan di faktor lingkungan misalnya, perbaikan lingkungan fisik agar air, sanitasi lingkungan &
perumahan menjadi bersih. Langkah pencegahan di faktor pejamu misalnya perbaikan status gizi, status
kesehatan, pemberian imunisasi.
b) Pencegahan
tingkat kedua (secondary prevention)
Seperti
diagnosis dini serta pengobatan tepat. Sasarannya ialah pada penderita / seseorang yang
dianggap menderita (suspect) &
terancam menderita.Tujuannya adalah untuk diagnosis dini & pengobatan tepat
(mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit lebih
lanjut/ akibat samping & komplikasi). Beberapa usaha pencegahannya ialah
seperti pencarian penderita, pemberian chemoprophylaxis
(Prepatogenesis /patogenesis penyakit tertentu).
c) Pencegahan
tingkat ketiga (tertiary prevention)
Seperti
pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi. Sasarannya adalah penderita
penyakit tertentu. Tujuannya ialah mencegah jangan sampai mengalami cacat &
bertambah parahnya penyakit juga kematian dan rehabilitasi (pengembalian
kondisi fisik/ medis, mental/ psikologis & social.
E.
Manfaat mempelajari riwayat alamiah perjalanan penyakit :
1.
Untuk
diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit.
2.
Untuk
Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah
dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
3.
Untuk
terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan
awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal
terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan.
Terdapat
juga manfaat lain, yaitu :
1.
Studi etiologi — menemukan penyebab
2. Studi prognostik — mempelajari faktor risiko dan
perkiraan akhir penyakit
3. Studi intervensi — mengetahui effectiveness , dan efficiency program pemberantasan dan pencegahan penyakit
Bisa
di simpulkan bahwa sebagai seorang yang rentan terhadap suatu penyakit kita
harus mengetahui proses terjadinya penyakit dalam tubuh manusia, agar kita bisa mengantisipasi
dan bisa memotong jalur perjalanan penyakit di dalam tubuh. Setiap penyakit memiliki
riwayat alamiah yang berbeda-beda, oleh sebab itu terdapat perbedaan dalam
mengatasi masalah ini.












0 komentar:
Posting Komentar