Sejarah resmi selama ini mengatakan bahwa
Christopher Columbus-lah yang menemukan daratan luas yang kemudian disebut
Amerika. Hal ini ternyata tidak benar. Karena 70 tahun sebelum Columbus
menjejakkan kaki di amerika, daratan yang disangkanya India, Laksamana Muslim
dari China bernama Ceng Ho (Zheng He) telah mendarat di Amerika. Bahkan berabad
sebelum Ceng Ho, pelaut-pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah
membuat kampung-kampung di Amerika dan berasimilasi secara damai dengan
penduduk lokal di sana.
Penemu Amerika bukanlah Columbus. Penemu
Amerika adalah Umat Islam. Mereka menikah dengan penduduk lokal, orang-orang
Indian, sehingga menjadi bagian dari local-genius Amerika.
fakta-fakta empirik bahwa umat Islam sudah hidup di Amerika beberapa abad
sebelum Colombus datang.
Doktor Mroueh menulis, “Sejumlah fakta
menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika
sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke-10, pada
waktu pemerintahan Khalifah Umayyah, yaitu Abdurrahman III (929 – 961M), kaum
Muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke Barat dari pelabuhan Delbra
(Palos) di Spanyol, menembus “samudra yang gelap dan berkabut”. Setelah
menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang
“tak dikenal dan aneh”. Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru
itu, dan mereka inilah kaum imigram Muslimin gelombang pertama di Amerika.”
Granada, benteng pertahanan terakhir ummat Islam
di Eropa jatuh pada tahun 1492. Pada pertengahan abad ke-16 terjadilah
pemaksaan besar-besaran secara kejam terhadap orang-orang Yahudi dan Muslimin
untuk menganut agama Katholik, yang terkenal dalam sejarah sebagai Spanish
Inquisition. Pada masa itu keadaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam
sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang
dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut. Ada tiga macam sikap orang-orang Yahudi
dan orang-orang Islam dalam menghadapi inkusisi itu:
Pertama, yang tidak mau beralih agama. Akibatnya mereka disiksa kemudian
dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu salib.
Kedua, beralih
agama menjadi Katholik Roma. Mereka itu diawasi pula apakah memang berganti
agama secara serius atau tidak. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu
disebut kelompok Morisko, sedangkan yang dari agama Yahudi disebut kelompok
Marrano.
Ketiga, melarikan
diri atau hijrah menyeberang Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudra
yang gelap dan berkabut. Inilah kelompok imigran gelombang kedua di negeri baru
itu.
Penganiayaan itu mencapai puncaknya semasa Paus
Sixtus V (1585-1590). Sekurang-kurangnya ada dua dokumen yang menyangkut
inkusisi ini. Yang pertama, Raja Spanyol Carlos V mengeluarkan dekrit pada tahun
1539 melarang penduduk bermigrasi ke Amerika Latin bagi keturunan Muslimin yang
dihukum bakar dan dieksekusi di kayu salib itu. Yang kedua dekrit itu
diratifikasi pada 1543, dan disertai perintah pengusiran Muslimin keluar dari
jajahan Spanyol di seberang laut Atlantik.
Ini adalah bukti historis adanya imigran
Muslimin gelombang kedua sebelum tahun 1543 (dekrit kedua). Ada banyak
literatur yang membuktikan adanya kehadiran Muslimin gelombang pertama ke
Amerika jauh sebelum zaman Columbus. Bukti-bukti itu antara lain:
Abul-Hassan Ali Ibnu Al-Hussain Al-Masudi
merupakan seorang pakar sejarah dan geografi yang hidup dari tahun 871-957 M.
Dalam karyanya yang berjudul “Muruj adh-dhahab wa maad
aljawhar” (Hamparan Emas dan Tambang Permata), Abu Hassan menulis
bahwa pada waktu pemerintahan Khalifah Abdullah Ibn Muhammad (888-912),
penjelajah Muslim Khasykhasy Ibn Sa’ied Ibn Aswad dari Cordova-Spanyol, telah
berlayar dari Delba (Palos) pada 889, menyeberang Samudra yang gelap dan
berkabut dan mencapai sebuah negeri yang asing kemudian kembali dengan
harta yang menakjubkan. Pada peta Al-Masudi terbentang luas negeri yang
disebutnya dengan al-ardh majhul.
Loe Weiner, pakar sejarah dari Harvard
University, dalam bukunya “Africa and the Discovery of America” (1920)
menulis bahwa Columbus telah mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang
tersebar seluas Karibia, Amerika Tengah dan Utara, termasuk Canada. Mereka
berdagang dan telah melakukan asimilasi perkawinan dengan orang-orang Indian
dari suku Iroquois dan Algonquin.
Geografer dan pembuat peta bernama Al-Syarif
Al-Idrisi (1099-1166) menulis dalam bukunya yang terkenal Nuzhat al-Musytaq
fi Ikhtiraq al-Afaaq (Ekskursi dari yang Rindu Mengarungi Ufuq) bahwa
sekelompok pelaut dari Afrika Utara berlayar mengarungi Samudra yang gelap dan
berkabut dari Lisbon (Portugal) dengan maksud mendapatkan apa yang ada di balik
samudra itu, betapa luasnya dan di mana batasnya. Mereka menemukan pulau yang
penghuninya bercocok tanam dan telah mempergunakan bahasa Arab.
Columbus dan para penjelajah Spanyol serta
Portugis mampu melayari menyeberang Samudra Atlantik dalam jarak sekitar 2400
km itu dikarenakan bantuan informasi geografis dan navigasi dari peta yang
dibuat oleh pedagang-pedagang Muslimin, termasuk informasi dari buku tulisan
Abul Hassan Al-Masudi yang berjudulAkhbar az-Zaman.
Tidak banyak diketahui orang, bahwa Columbus
dibantu oleh dua orang nakhoda Muslim pada waktu ekspedisi pertamanya
menyeberang transatlantik. Kedua kapten Muslim itu adalah dua bersaudara Martin
Alonso Pinzon yang menahkodai kapal Pinta, dan Vicente Yanez Pinzon yang
menahkodai kapal Nina. Keduanya adalah hartawan yang mahir dalam seluk-beluk
perkapalan, membantu Columbus dalam organisasi ekspedisi itu, dan mempersiapkan
perlengkapan kapal bendera Santa Maria. Bersaudara Pinzon ini masih memiliki
ikatan kekeluargaan dengan Abuzayan Muhammad III (1362-66).
Para antropologis telah menemukan prasasti
dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Dari prasasti itu diperoleh
keterangan bahwa imigran itu membawa juga gajah dari Afrika.
Columbus menulis bahwa pada hari Senin, 21
Oktober 1492, sementara ia berlayar dekat Gibara pada bagian tenggara pantai
Cuba, Columbus menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah. Reruntuhan
beberapa masjid dan menaranya serta tulisan ayat Al Quran telah didapatkan di
berbagai tempat seperti Cuba, Mexico, Texas, dan Nevada.
Dr. Barry Fell dari Harvard University menulis
bahwa fakta-fakta ilmiah telah menunjukkan bahwa berabad-abad sebelum Columbus,
telah bermukim kaum Muslimin di Benua Baru dari Afrika Utara dan Barat.
(Eramuslim)













0 komentar:
Posting Komentar