| Foto Ilustrasi |
Kaum
transeksual di Filipina kini bisa mendaftarkan diri di Akademi Militer Filipina
(PMA). Namun, mereka diperlakukan sebagaimana taruna laki-laki lainnya. PMA
tetap tidak ingin tradisi “macho”nya dirusak oleh para banci.
Pejabat PMA bersikeras
tidak melakukan diskriminasi terhadap kaum transeksual tetapi mereka harus
berperilaku sama dengan taruna lelaki. Dalam setiap kasus, taruna transeksual
akhirnya kabur dari PMA sebelum menyelesaikan kuliah selama empat tahun,
kebanyakan karena tidak tahan dengan kerasnya pendidikan.
Menurut pengawas
PMA, Mayor Jenderal Nonato Peralta Jr, akademi milter Filipina tidak membuat
para transeksual mengendurkan minat melamar masuk PMA. Kalau kaum transeksual
tidak boleh masuk PMA, sama saja dengan melanggar hak-hak asasi manusia. Namun
tidak banyak banci yang masuk PMA.
"Kami tidak
melarang mereka. Dalam budaya Filipina, transeksual belum bisa secara terbuka
diterima masyarakat. Masyarakat Filipina kini masih di jalur transisi. Sama
juga di PMA ini, kita tidak bisa mengatakan kaum transeksual dilarang masuk
PMA. Tidak, mereka tidak dilarang," tegas Peralta.
Kapten Agnes
Flores, juru bicara PMA mengatakan banci tidak didiskriminasikan tapi
"begitu mereka masuk PMA mereka diwajibkan untuk berperilaku sebagaimana
cara taruna seharusnya berperilaku."
"Jadi siapa saja yang
menampilkan perilaku banci akan ditegur karena bukan itu yang diharapkan dari
mereka. Mereka masuk lembaga kami dan mereka mengikuti aturan dan peraturan
organisasi kami," tegas Flores seperti ditulis Philippines Daily Inquirer terbitan Kamis (12/7/2012).
Flores menyatakan
bahwa pejabat PMA mengamati bahwa taruna transeksual ternyata tidak bisa tahan
memenuhi tuntutan pendidikan. "Mereka bertahan selama mereka bisa
menjalani pendidikan, sampai mereka sendiri yang bilang mereka sudah tak tahan
lagi dan mereka minggat dari PMA,” katanya.
Dibandingkan perempuan, kaum
transeksual ini kalah tangguh. Perempuan taruna memiliki "tingkat
ketahanan hidup yang tinggi" dan banyak yang ternyata lulus. "Banci
taruna biasanya minggat karena mereka tidak mengatasi beratnya pendidikan.
Bukan karena diskriminasi mereka lantas drop out, tapi
karena tak sanggup menjalani pendidikan,“ tambahnya.
PMA tampaknya
berbeda dengan sikap yang diambil oleh Presiden AS Barack Obama dan Kongres
Amerika, yang pada September tahun lalu secara resmi mencabut aturan yang
selama 17 memperlakukan gay AS secara diskriminatif dan dikenal dengan aturan
“Jangan Tanya, Jangan Katakan”.
Awlanya dengan
aturan itu, para kaum transeksual harus berbohong mengenai jati diri mereka
bila ingin menjadi tentara. Kini, hukum Amerika yang melarang pria gay,
lesbian, dan biseksual masuk dinas militer sudah dicabut.
Obama mengatakan
pencabutan hukum itu berarti bahwa anggota Angkatan Bersenjata AS "tidak
akan lagi harus berbohong tentang siapa diri mereka demi mengabdi kepada negara
yang mereka cintai
[inilah]












0 komentar:
Posting Komentar