Ada sebuah hadits shahih tentang hari
akhir mengenai pohon ini:
“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin
memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi
bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: ‘Hai Muslim!
Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali
pohon ghorqod, maka, itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi,” (HR Muslim
VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/30).
WASHINGTON Post edisi April 1984 memuat satu artikel
tentang pertemuan Presiden AS Ronald Reagan dengan seorang pelobi senior Yahudi
dari American Israel Public
Affairs Committee (AIPAC)
bernama Tom Dine. Pertemuan itu berlangsung secara pribadi.
Kepada Tom Dine, Reagan yang
merupakan mantan Gubernur Negara Bagian California ini dengan serius berkata,
“Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada
tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi
bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak
tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para
nabi itu… akan tetapi, percayalah kepada saya, bahwa nubuat-nubuat itu
menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani.”
Presiden Reagan merupakan Presiden Amerika Serikat pertama
yang memulai suatu tradisi baru dalam protokoler Gedung Putih, dimana
kebaktian, seminar keagamaan, dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh
Gereja Evangelikal Amerika sering diadakan. Di masa Reagan-lah paham
Zionis-Kristen masuk dalam lingkaran elit pemerintahan Amerika. Seluruh
kebijakan, terutama kebijakan Amerika di luar negeri, khususnya untuk wilayah
Timur Tengah, sangat kental bernuansa Zionis.
Penerus Reagan, George H. W. Bush,
William J. Clinton, dan George W. Bush, merupakan orang-orang yang sangat yakin
tentang nubuat-nubuat (janji-janji atau ramalan-ramalan) Tuhan seperti yang
tercantum di dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Menurut
keyakinan mereka, abad milenium merupakan zaman akhir dimana suatu ketika akan
terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia,
antara Tentara Tuhan melawan Pasukan Iblis. Kristus akan mengalahkan
Anti-Christ. Dan setelah itu dunia akan menjadi damai dan sejahtera hingga
datangnya hari penghabisan.
Sebab itu, dilandasi kepercayaan akan hari akhir seperti
yang dinubuatkan dalam Injil Darby, para Presiden Amerika bekerja dengan sekuat
tenaga untuk melapangkan jalan bagi suatu hari dimana akan datang Kristus yang
kedua kalinya. Karena menurut kepercayaan mereka Kristus akan turun di tanah
Palestina, maka mereka berupaya untuk menguasai Tanah Palestina sepenuhnya dan
memberikannya kepada orang-orang Yahudi.
Kaum Zionis, apakah mereka yang
berada di Tanah Palestina maupun yang tersebar di Amerika dan Eropa, sangat
yakin bahwa era milenium ketiga ini merupakan pintu gerbang pada akhir zaman.
Entah sengaja atau tidak, kasus WTC 911, dimana Menara Kembar WTC yang dilihat
dari jauh bagaikan sebuah gerbang, diruntuhkan, maka seakan terbukalah suatu
era baru bagi keyakinan ini.
Segala daya upaya mereka lakukan guna menghadapi datangnya
Messiah yang mereka yakini akan memimpin mereka dari Kuil Sulaiman untuk
menaklukkan dunia.
Namun ada satu anomali yang secara
diametral bertentangan dengan keyakinan mereka ini. Di satu sisi mereka mengaku
sangat yakin akan bisa mengalahkan seluruh umat manusia, wabilkhusus umat
Islam, dan menjadi pemimpin dunia, namun di sisi lain mereka juga
berlomba-lomba menanami Tanah Palestina yang mereka duduki secara tidak sah,
dengan pohon ghorqod (nama latin: Nitraria retusa).
Melihat ulah para Zionis-Yahudi yang
berlomba-lomba menanami Tanah Palestina dengan pohon Ghorqod, maka kenyataan
ini menjelaskan kepada kita bahwa kaum Yahudi itu sesungguhnya memahami hakikat
hari akhir, dimana mereka akan dikejar-kejar oleh umat Islam dan hanya pohon
Ghorqod-lah satu-satunya tempat yang bersedia dijadikan tempat persembunyian
(perlindungan) kaum Yahudi.
[salamonline]















0 komentar:
Posting Komentar