KIPASBIS | Peran secara detil dari dinas rahasia Israel Mossad, yang menggarap sejak perencanaan sampai dengan pelaksanaan aksi serangan atas gedung-kembar WTC di New York dan gedung Pentagon di Washington DC. Pada tanggal 11 September 2001. Perbuatan keji itu dinisbahkan kepada 19 orang "teroris Islam" dari Al-Qaidah dan para pendukungnya yang tersebar di seluruh dunia, termasuk konon menurut fitnah itu, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, sebagai pimpinan organisasi teroris regional Jama'ah Islamiyyah (JI). Sampai dengan hari ini para "teroris Islam" itu tidak satu pun yang berhasil diajukan ke depan pengadilan oleh pemerintah Amerika Serikat, karena mereka memang tidak ada. bahkan Ustadz abu bakar ba'asyir tidak mempunyai bukti kuat yang mengatakan bahwa dia adalah teroris, ini adalah permainan ala yahudi laknatullah dan boneka nya adalah Indonesia (densus 88).

Tanpa ambil pusing untuk melakukan pembuktian tuduhannya, dengan dalih "perang membasmi terorisme", Amerika Serikat menempatkan kaum muslimin di seluruh dunia menjadi sasaran pendzaliman. Afghanistan, negeri muslim yang miskin, diratakan jadi arang dengan "carpet bombing", karena dosa Afghanistan "menampung kelompok teroris Al Qaidah". Publik dipaksa untuk melupakan kenyataan bahwa yang mendukung Al Qaidah, melatih dan membiayai, dan menempatkan mereka di Afghanistan sejak tahun 1979, adalah Amerika Serikat sendiri, persisnya Central Intelligence Agency (CIA), dalam rangka memerangi Uni Sovyet di negeri miskin tersebut.
Sesudah Afghanistan, kemudian Iraq menyusul dihabisi dan dijajah dengan dalih Iraq mengembangkan dan menyimpan "senjata-pemusnah-massal", berdiri di belakang serangan 11 September 2001, dan mendukung serta melindungi Al- Qaidah. Pada tanggal 28 Januari 2002, di depan Kongres Amerika Serikat, presiden Bush melaporkan, "The British government has learned that Saddam Husein recently sought significant quantities of uranium from Africa" (Pemerintah Inggris telah berhasil mengetahui bahwa Saddam Hussein baru-baru ini telah mengusahakan (untuk mendapatkan) sejumlah besar uranium dari Afrika). Enambelas butir kata yang kini menjadi gunjingan orang banyak itu kini ternyata didasarkan pada dokumen yang palsu, atau dipalsukan, yang digunakan sebagai dalih oleh Presiden Bush untuk mengelabui rakyat dan Kongres Amerika Serikat untuk mendapatkan persetujuan melibas Iraq.
Perdana Menteri Inggris Tony Blair dalam pidatonya di depan Parlemen Westminster sebelum serangan ke Iraq dilancarkan pada medio Maret 2003, bahkan mengintimidasi, bahwa "dalam tempo 45 jam setelah perintah Saddam Hussein dikeluarkan Iraq akan mampu melancarkan serangan dengan senjata-senjata nuklir, kuman dan biologis". Kalau sekiranya tuduhan itu benar, maka serangan terhadap Iraq memang harus segera dilaksanakan, sebagaimana alasan Bush, "sebelum Iraq dapat menyerang kita". Hanya saja ternyata pernyataan itu bohong dan seratus persen fitnah, yang digunakan sebagai dalih untuk menyerang Iraq.
Sebenarnya direktur CIA, George Tenet, empat bulan sebelumnya pada bulan Oktober 2003, secara pribadi pernah dua kali mengirimkan memo kepada Gedung Putih agar menghapus "16-kata" itu dari konsep pidato Presiden Bush yang menuduh Iraq telah mengusahakan untuk "membeli lima ratus ton uranium-oksida" dari Niger. Ketika usaha Tenet itu gagal, CIA menyatakan tidak ikut bertanggung jawab dengan "informasi intelijen" itu, karena diketahui didasarkan pada dokumen dan informasi palsu. Tetapi para pembantu dekat presiden Bush tetap menekan CIA agar mengeluarkan analisis yang nadanya mendukung "temuan" Presiden Bush itu. ('The Amazing Stories of Condoleezza Rice', http://www.buzzflash.com, July 3, 2003).
Dewan Keamanan PBB, ketika mendengar laporan menteri luar-negeri Collin Powell, menolak informasi tentang upaya Iraq membeli uranium-oksida itu, karena diketahui isi dokumen itu memuat banyak ketidakcermatan yang mencurigakan. Antara lain sebagai contoh, presiden Niger yang disebut-sebut dalam dokumen intelijen presiden Bush itu ternyata adalah tokoh yang telah lama meninggal dunia. Tidak heran kalau dokumen semacam itu ditolak mentah-mentah oleh duta-besar Niger di PBB.
Karena kecaman yang bertubi-tubi terhadap kesemberonoan Presiden Bush menggunakan intelijen yang tidak akurat, maka untuk mengatasi serangan itu pada bulan Mei 2003, menjelang dinyatakan berakhirnya operasi di Iraq, kembali Bush mengumbar kebohongan, "We've found the weapons of mass destruction. You know, we found biological laboratories. And we'll find more weapons as time goes on. But for those who say we haven't found the banned manufacturing devices or banned weapons, they're wrong. We found them" (Kita telah menemukan senjata senjata pemusnah massal itu. Kita telah menemukan laboratorium senjata-senjata kimia. Dan kita akan menemukan lebih banyak lagi senjata dengan berjalannya waktu. Mereka yang mengatakan kita belum menemukan pabrik alat-alat atau senjata terlarang itu, mereka keliru. Kita telah menemukannya). Sampai hari ini nyatanya pasukan Amerika dan Inggris di Iraq belum juga berhasil menemukannya.
Kini fitnah busuk itu terungkap satu per satu. Dari lembaga resmi militer Amerika Serikat, The Armed Forces Institute of Pathology (AFIP), berdasarkan hasil pemeriksaan mereka atas daftar manifes penumpang pesawat, yang konon "dibajak oleh 19 orang teroris Arab", dan dari hasil otopsi pada tanggal 16 Nopember 2001 terhadap 189 korban para penumpang pesawat, ternyata baik dari daftar manifes penumpang maupun dari otopsi jenazah para korban, AFIP menyatakan tidak menemukan satu pun nama orang Arab, atau jenazah orang Arab. Satu-satunya yang ada kaitannya dengan orang Arab, mereka adalah kambing-hitam pemerintah Amerika Serikat (The Prince George's Journal, Maryland, 'Operation 911: No Suicide Pilots', edisi September 18, 2001, dikutip olehhttp://www.serendipity.li/wtc.html, July 14, 2003)
Cerita tentang 19 orang "teroris Islam" Al-Qaidah yang oleh intelijen Amerika Serikat disebut-sebut berhasil menyusup dan menguasai pesawat dan menghunjamkannya ke gedung-kembar WTC itu, kini seluruhnya ternyata cerita isapan jempol, yang digunakan untuk menghasut kecurigaan terhadap kaum muslimin sedunia tanpa kecuali, termasuk terhadap kaum muslimin di Indonesia. Nama Muhammad Atta, Marwan Al-Sehhi, dan Hani Hanjour, yang konon dikatakan sebagai para pilot berkebangsaan Saudi yang berhasil membajak, kemudian mengemudikan dan menabrakkan pesawat-pesawat Boeing 767 ke gedung-kembar WTC di New York dan Pentagon di Washington DC., menurut Marcel Bernard, instruktur pada pusat pendidikan penerbangan dimana ketiga "pilot" itu pernah menjalani latihan mereka, konon dikatakan, jangankan menerbangkan pesawat jet berbadan lebar dan canggih seperti Boeing-767, mereka itu untuk menerbangkan pesawat kecil tipe Cessna 172 saja secara solo, oleh para instukturnya dinilai tidak mampu ("... they had received pilot training . with courtesy of the CIA (?) . but were considered by their flying instructors to be incompetent to fly even light single-engine planes")

Para analis yang meneliti kasus peristiwa serangan dan hancurnya gedung kembar WTC itu mencurigai pesawat-pesawat nahas itu kemungkinan dikemudikan dengan alat 'remote control' dan diledakkan secara otomatis dengan alat yang memang telah terpasang pada setiap pesawat komersial oleh aparat keamanan penerbangan federal sebagai tindakan berjaga-jaga menghadapi kemungkinan kontinjensi bilamana sewaktu-waktu pesawat dibajak.
Kesimpulan itu makin memperkuat analisis bahwa serangan terhadap gedung-kembar WTC di New York dan gedung Pentagon di Washington DC., melibatkan "orang dalam", yang mencakup personel angkatan udara Amerika Serikat, Pentagon, CIA, dan Mossad.
Bersamaan dengan itu para ahli demolisi Amerika juga menengarai gedung WTC New York tersebut tidak mungkin akan runtuh sedemikian rapi tanpa merusak gedung-gedung di sekitarnya sebagaimana dinyatakan oleh pemerintah Amerika Serikat, yaitu disebabkan oleh tabrakan pesawat. Bila hanya oleh tabrakan pesawat, para ahli demolisi itu menyimpulkan gedung-kembar WTC itu sebagian masih akan tersisa, meskipun mereka mempercayai gedung-kembar berlantai 110 setinggi 415 meter itu telah didesain dan dibangun oleh para arsitek Minoru Yamasaki, John Skilling, dan Leslie Robertson sebagai bangunan tahan gempa, tahan tornado, dan diilhami novel Tom Clancy yang mengisahkan hancurnya sebuah gedung pencakar langit karena ditabrak oleh sebuah pesawat teroris, maka ketiga arsitek kondang itu mendesain gedung-kembar WTC juga tahan tabrakan pesawat.
Menurut para ahli demolisi itu, cara runtuhnya dan habisnya gedung-kembar WTC itu memperlihatkan ciri-ciri, apa yang mereka sebut 'controlled demolition' dari dalam, oleh orang-orang yang paham benar tentang konstruksi bangunan WTC, dengan memakai teknik yang digunakan untuk menghancurkan gedung-gedung tua tanpa perlu membahayakan lingkungan di sekitarnya. Gedung Pentagon yang konon disebut-sebut ditabrak pesawat Boeing 767 juga tidak memperlihatkan adanya puing-puing pesawat, atau isi perut pesawat yang berserakan berupa barang-barang penumpang dan sebagainya sebagaimana layaknya bila ada pesawat yang jatuh. Pendek kata, semua itu dalam bahasa Amerika, cerita tentang ulah teroris Arab itu, "too good to be true"
Perang Membasmi Terorisme Hanya Omong-Kosong
Yang lebih aneh lagi dilihat dari kaca-mata perang terhadap terorisme pada hari dimana terjadi serangan 11 September 2001 itu, tampak reaksi yang sedemikian lambannya dari pemerintah dan pejabat berwenang Amerika Serikat. Pembajakan pesawat pertama diduga terjadi pada pukul 08.20 pagi, dan pesawat bajakan terakhir yang jatuh di Pennsylvania pada pukul 10.06 pagi. Terhadap kenyataan tersebut tidak satu pun pesawat buru-sergap yang menyambang dari pangkalan angkatan udara Andrews, yang jauhnya hanya 15 kilometer dari ibukota Washington DC., sampai pesawat ketiga menabrak Pentagon pada pukul 09.38 pagi. Mengapa tidak pernah ada reaksi? Ada prosedur standar dari FAA (Federal Aviation Agency, Badan Penerbangan Federal AS) keharusan menyergap setiap pesawat yang dibajak. Antara bulan September 2000 sampai dengan bulan Juni 2001 saja tidak kurang dari 67 kali pesawat-pesawat buru-sergap dari NORAD (Komando Pertahanan Uara Amerika Utara) menyergap dan menggiring pesawat-pesawat yang mencurigakan, atau terbang melenceng dari jalur terbang yang telah ditetapkan.
Kejanggalan WTC
- Menara WTC Runtuh Akibat Terbakar??
Pemerintah AS secara resmi mengumumkan bahwa runtuhnya menara WTC adalah akibat api yang bersumber dari kebakaran pesawat.
Catat : Sepanjang sejarah belum pernah ada gedung runtuh akibat kebakaran!
Rangka bangunan WTC terbuat dari baja yang baru bisa meleleh pada suhu 15000 C. Para ahli dengan perhitungan ilmiah bersepakat bahwa kebakaran pesawat tersebut belum mencapai suhu yang cukup untuk melelehkan baja. Andaikata pun rangka baja WTC tersebut meleleh, maka tidak mungkin menara WTC runtuh secara keseluruhan, karena bagian yang diserang bukanlah pada bagian vital seperti fondasi bangunan. Lebih jauh lagi, seharusnya sistem anti-kebakaran WTC bisa memadamkan kobaran api tersebut. Nyatanya tidak.
- Bahan Peledak Adalah Penyebabnya
Untuk meruntuhkan menara WTC dengan cepat, maka metode yang digunakan adalah penggunaan bahan peledak yang dipasang di bagian dasar bangunan. Kesimpulan ini diperkuat oleh kesaksian salah seorang petugas keamanan WTC yang selamat yaitu William Rodriguez yang mendengar suara ledakan dari lantai dasar.
“ Saya tahu … ada bahan peledak … di bawah WTC.” – William Rodriguez
Pertanyaannya : Siapa pihak yang paling mudah mendapatkan akses untuk memasang bahan peledak? Yang jelas jawabannya bukan para ‘teroris’ Al-Qaeda!
- Tidak Ada Respon Dari George W. Bush
Pagi itu Presiden Bush sedang melakukan kunjungan program pendidikan di Sarasota, Florida. Ketika ia diberitahukan informasi tentang serangan ke WTC, maka seharusnya ia langsung bertindak karena negara sedang dalam bahaya. Nyatanya ia tetap duduk tenang selama 10 menit untuk melanjutkan acaranya (seakan-akan sudah tahu bahwa pagi itu AS akan diserang oleh teroris).
- Pesawat Kendali Jarak Jauh
Para ahli yang meneliti rekaman serangan WTC dengan seksama meyakini bahwa bukan pesawat Boeing 737 (pesawat penumpang) yang menabrak menara WTC, melainkan pesawat model baru yang diduga merupakan pesawat kendali jarak jauh. Secara kebetulan pada bulan April 2011 pemerintah AS mengakui bahwa mereka sedang mengembangkan pesawat robot yang dikendalikan dari jarak jauh. Teknologi ini dinamakan “Global Hawk”.
- 7. 4000 Pekerja Keturunan Israel Yang Tidak Berada Di WTC
Adakah kasus ini berhubungan dengan Konspirasi Zionisme Israel? Pada kenyataannya hari itu ada 4000 pekerja keturunan Israel yang tidak ‘ngantor’ pada hari itu. Perlu diketahui bahwa 11 September bukanlah hari besar bagi umat Yahudi.
- Penjualan Saham Dan Berbagai Transaksi Yang Terjadi Sebelum Peristiwa 9/11
Ribuan saham United Airlines dan American Airlines tiba-tiba dan dalam waktu singkat laku terjual sebelum peristiwa 9/11. Selain itu, berbagai transaksi keuangan secara elektronik dengan total nilai lebih dari 100 USD melalui WTC tiba-tiba secara cepat terjadi sebelum gedung itu hancur pada hari itu.
[Akhirzaman/jernih.net/]
0 komentar:
Posting Komentar