Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Gereja katolik australia akui pendetanya pedofil

Gereja Katolik Roma Australia mengakui beberapa pendeta mereka kerap melakukan pelecehan seksual terhadap bocah, atau lebih dikenal dengan pedofilia. Peristiwa itu menimpa lebih dari 600 anak di Negara Bagian Victoria sejak 1930-an.


Stasiun televisi AlJazeera melaporkan, Sabtu (22/9), Uskup Agung Denis Hart mengatakan fakta itu mengerikan dan memalukan. Dalam pernyataannya, Harta mengatakan sangat penting buat membuka semua pelecehan seksual itu tidak hanya di Negara Bagian Victoria, tapi juga di seluruh negeri.

"Kami tidak menutup mata atas kejadian ini dan ingin membantu proses penyembuhan penderitaan para korban pelecehan. Selain itu, kami menilai secara menyeluruh tindakan diambil gereja terkait permasalahan ini, utamanya pada 16 tahun belakangan," kata Hart. Menurut dia, hasil penilaian itu akan menjadi panduan dalam penanganan para korban dan tindakan pencegahan.

Tindakan pelecehan seksual terhadap anak-anak menjadi isu hangat di Australia dalam beberapa tahun terakhir. Saat Paus Benediktus XVI melawat ke Negeri Kangguru empat tahun lalu, dia menyempatkan diri bertemu para korban pelecehan dan menyampaikan permintaan maaf di depan publik.

Laporan tentang tindakan pelecehan seksual dilakukan pendeta terhadap para bocah mencuat setelah para pegiat melaporkannya kepada Parlemen Australia. Bahkan menurut data mereka, jumlah korban mencapai lebih dari sepuluh ribu anak.

Menurut keterangan pihak gereja, mereka kini sedang mengusut 620 kasus terjadi pada kurun 1960 sampai 1980, ditambah 45 kasus baru.

Menurut Chrissie Foster, orang tua korban pelecehan, selama puluhan tahun gereja berusaha menyembunyikan data pelecehan seksual itu dan baru dibuka saat diminta parlemen Jumat lalu. "Hanya polisi bisa menghentikan semua ini," kata Foster.

Foster mengatakan dia kecewa dan menganggap gereja tidak pernah sungguh-sungguh dalam mencegah perbuatan keji itu. Dua anak perempuan Foster diperkosa oleh pendeta pada pertengahan 1980-an. Bahkan, salah satu anaknya bunuh diri akibat tekanan batin.[merdeka/kipasbis]

Menteri pakistan ajak Thaliban & Al-Qaedah gabung dalam misi bunuh pembuat film Anti-Islam

Menteri urusan Kereta Api Pakistan Ghulam Ahmad Bilour menjanjikan sejumlah uang bagi siapa saja yang dapat membunuh pembuat film anti-Islam. Pernyataan itu keluar setelah meletusnya aksi protes terkait film itu di beberapa negara mayoritas berpenduduk Muslim.

Ghulam Ahmad Bilour
“Saya umumkan hari ini bagi siapa saja dapat membunuh dia saya berikan hadiah U$ 100.000 (Rp 954 juta). Saya juga mengajak Thaliban dan Al-Qaidah bergabung bersama dalam misi suci ini,” ucapnya saat menggelar jumpa pers, sebagaimana dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Minggu (23/9/2012).

Juru bicara Perdana Menteri Pakistan mengatakan pernyataan Ghulam, tidak terkait dengan kebijakan pemerintah. Aksi unjuk rasa memprotes film anti-Islam di Pakistan telah menewaskan 19 orang.
Di Ibu Kota Dhaka, Banglades, aksi unjuk rasa ribuan umat Islam berakhir rusuh. Pihak kepolisian membubarkan demonstran dengan pukulan tongkat dan gas air mata.

Walaupun aksi unjuk rasa tidak terlalu besar dibanding pekan lalu, namun kemarahan masih memuncak di beberapa negara terkait film anti-Islam, termasuk protes munculnya “kartun Nabi Muhammad” terbitan majalah satir asal Prancis Charlie Hebdo.


                                                                                                                                                  Merdeka

Minggu, 16 September 2012

Karna berjenggot dan muslim,pria ini di tangkap di bandara

Kecurigaan yang berlebihan terhadap seorang Muslim di bandara udara semakin menjadi-jadi. Seperti yang terjadi di di India dalam tragedinya dua tahun yang lalu.

Adalah Noor-ul-Huda yang berkata, “Penerbangan akan segera lepas landas dan begitu juga saya,” dalam penerbangan Emirates ke London dua tahun yang lalu. Huda mengatakan itu kepada putranya, dan kebetulan didengar oleh seorang penumpang perempuan yang langsung salah mengartikannya.

Perempuan itu, demi melihat tampilan Huda, dan mengira ia adalah seorang Muslim, melaporkan Huda kepada Kepolisian Delhi, yang segera menciduk Huda, memverifikasi pengaduan tersebut.

Namun kemudian Kepolisian Delhi segera menutup penyelidikan ini karena tidak ditemukan bukti apapun. “Tidak ada yang konkret dalam keluhan perempuan itu. Polisi tidak perlu menahannya. Dia telah mendapat jaminan sekarang,” ujar sebuah sumber.

“Saya baru saja menelpon anak saya untuk memberitahukan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Jika Anda tidak menyebutkan pesawat harus lepas landas, memangnya apa lagi yang akan Anda katakan? Ini merupakan siksaan mental untuk saya dan keluarga saya,” kata Huda setelah mendapatkan jaminan dari pengadilan.
“Dia hanya pergi untuk seminar ke London, dan hanya karena Huda berjenggot, perempuan itu berpikir Huda adalah ancaman bagi penumpang.” kata Maulana Mufti Ahmed Farukhi, pengacara Huda. Keluarga Huda, yang tinggal di Deoband, sangat takut dan tidak tahu tentang apa yang terjadi terhadap kerabatnya.

“Saudara-saudara saya telah pergi ke Delhi untuk memeriksa apakah dia baik-baik saja. Kami belum bisa menghubungi dia karena teleponnya tidak aktif,” kata Waliullah, putra Huda.[indianatoday/islampos/kipasbis]

Rabu, 05 September 2012

Biksu myanmar berulah lagi,menentang keberadaan Muslim

KIPASBIS | Belum juga masalah kekerasan atas Muslim Rohingya di Myanmar baru-baru ini diselesaikan, ribuan biksu Buddha kembali berunjuk rasa menentang keberadaan Muslim di negara mayoritas pemeluk Buddha itu.

Dilansir Deutsche Welle, hari Ahad (2/9/2012) ribuan biksu berpakaian rahib warna merah-oranye berbaris di jalanan kota Mandalay, sementara para pendukungnya menyemut di tepi-tepi jalan. Mereka membawa spanduk bertuliskan, “Lindungi ibu pertiwi Myanmar dengan mendukung presiden!”
Para biksu myanmar melakukan aksi demo
Menurut pakar masalah Myanmar, Hans-Bernd Zollner, ribuan rahib itu adalah biksu yang sama yang pernah berdemonstrasi pada tahun 2007 menentang junta militer. Junta tersebut yang sekarang mendukung pemerintahan Presiden Thein Sein, pernah menekan para demonstran biksu itu.

Lantas apa yang menyebabkan para biksu itu kini justru berbalik mendukung milliter Myanmar yang menyokong presiden dari militer itu? Tidak lain adalah karena mereka juga menentang keberadaan etnis Muslim Rohingya.
Orang Rohingya kebanyakan tinggal di bagian Barat Myanmar, di negara bagian Arakan atau Rakhine, berbatasan dengan Bangladesh. Mereka tidak dianggap sebagai warga negara dan tidak termasuk etnis minoritas di Burma yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap Rohingya sebagai salah satu etnis yang paling terancam eksistensinya di dunia.

“Muslim dan khususnya Rohingya selalu menjadi bocah yang dicambuk (korban),” kata Zollner kepadaDeutsche Welle. Menurut Zollner tradisi penindasan Buddhis atas kaum Muslim sudah berlangsung sejak masa penjajahan Inggris di Burma.

Buddhis memutarbalikkan fakta

Presiden Thein Sein menyalahkan kelompok Muslim dan rahib Buddhis sebagai biang terjadinya bentrokan di antara keduanya. Namun, pada saat yang sama mantan jenderal itu mengatakan kepada badan pengungsi PBB UNHCR bahwa tidak mungkin bagi Myanmar untuk mengakui Rohingya sebagai warganya. Thein Sein berdalih, Rohingya bukan etnis asal Burma dan mereka adalah para pendatang ilegal.

Para rahib itu menggunakan pernyataan Presiden Thein Sein tentang status Rohingya tersebut untuk menentang PBB dan juga eksistensi Muslim Rohingya, kata Phil Robertson wakil direktur Human Rights Watch untuk wilayah Asia.
Robertson mengatakan, para rahib Buddha “menggunakan PBB sebagai semacam target dari kemarahan mereka, dengan menuding bahwa PBB menunjukkan keberpihakan ke salah satu kubu, yaitu mendukung Rohingya dan tidak mendukung Rakhine.”

Sebagaimana diketahui etnis Rakhine beragama Buddha. Namun Robertson menampik tuduhan keberpihakan itu dan PBB jelas-jelas juga mendukung kelompok Buddhis di Rakhine

“Masalah mendasarnya adalah para biksu itu dan orang-orang yang mendukung mereka … telah memutarbalikkan fakta di lapangan,” kata Robertson.

Hal senada disampaikan oleh peneliti Myanmar asal Jerman, Marco Bunte.
Pemutarbalikan fakta oleh kelompok Buddhis, di mana rasisme dan diskriminasi memainkan peran penting di dalamnya, bukan fenomena baru, kata Bunte. Ketegangan yang selalu ada itu kini mencuat ke permukaan, seperti borok lama yang muncul kembali. Robertson menggambarkan nasib Rohingya sebagai kunci tonggak demokrasi di Myanmar.

“Rohingya merupakan ujian bagi negara multietnis Myanmar,” kata Robertson. “Sayangnya pemerintah gagal dalam tahap ini,” imbuhnya. Hal itu disebabkan karena pasukan keamanan Myanmar berpihak kepada Buddhis.

Sementara itu menurut Zollner, kasus Rohingya ini agak unik. Oleh karena dampak penderitaan Rohingya hanya memberikan efek kecil bagi persatuan Myanmar, maka tidak ada orang yang mau berpihak kepada Rohingya di dalam negeri. Konsekuensinya, siapapun yang berani menyatakan berpihak pada Rohingya di Myanmar, maka akan kehilangan dukungan dari dan pengaruh atas masyarakat mayoritas Buddhis. Tidak peduli apakah orang itu pejabat pemerintah, oposisi, Aun San Suu Kyi atau para tokoh lainnya.
Selama masalah struktural terkait mayoritas Buddhis di Myanmar tidak dapat diatasi, maka Muslim Rohingya juga tidak akan pernah hidup damai.

Buddhis serang Rohingya

Menjelang rombongan Turki yang disertai Menteri Luar Negeri Ahmet Davutglo dan isteri perdana menteri Turki Emine Erdogan berkunjung ke Myanmar untuk membawa bantuan kemanusiaan, Muslim Rohingya dilaporkan mendapat serangan lagi dari warga Buddhis.
Menurut laporan koran Vatan yang dikutip Today's Zaman, Jumat (10/8/2012), pembantaian atas Muslim Rohingya meningkat menjelang kedatangan Davutoglu dan Emine Erdogan pada hari Kamis 9 Agustus lalu di Arakan.
Situs Amerika Salem News melaporkan, “Setelah mendengar tentang kunjungan delegasi Turki ke sini (Myanmar), Buddhis menyerbu rumah-rumah Muslim setempat dan membunuh puluha orang. Kami belum pernah melihat pemandangan yang mengerikan semacam itu. Bahkan sutradara yang paling berbakat sekalipun tidak bisa menyuting adegan horor seperti ini.[hidayatullah]

Selasa, 28 Agustus 2012

Ekstrimis Buddhis Rakhine bersiap-siap menyerang Muslim di Maungdaw

KIPASBIS.com - Ekstrimis Buddhis Rakhine dari kota Maungdaw nampak bersiap-siap untuk menyerang Muslim Rohingya, mereka menyetok senjata mematikan sejak bulan Juli 2012, menurut laporan seorang petugas desa dari Maungdaw, dilansir Kaladan Press, (26/8/2012).
"Orang-orang Rakhine telah membawa senjata-senjata mematikan-pedang panjang-dari kota yang berbeda di negara bagian Arakan melalui Buthidaung dengan perahu dan truk-truk sejak bulan Juli," katanya.
"Otoritas yang berwenang di dermaga Buthidaung telah membantu atau berpura-pura tidak tahu bahwa senjata-senjata mematikan itu telah diangkut," tambahnya.
Senjata-senjata mematikan itu dimuat ke dalam truk dan dibawa ke Maungdaw di mana sangat banyak pos-pos pemeriksaan yang berada di sana dan anehnya senjata-senjata itu diturunkan di Maungdaw tanpa ada kesulitan, menunjukkan bahwa otoritas setempat membantu etnis Rakhine untuk menyerang Muslim Rohingya di Maungdaw, seperti dituturkan oleh seorang saksi mata dari dermaga Buthidaung kepada Kaladan Press.
"Dua truk berisi pedang-pedang panjang dimuat dari dermaga Buthidaung yang diturunkan di Darkywa di distrik kota no. 3, Maungdaw pada 19 Agustus," kata saksi.
"Demikian pula, muatan truk lainnya diturunkan di Vihara Aung Mangla di jalur desa Shwezarr pekan ini. Dan sangat banyak orang Rakhine dari tempat yang berbeda di negara bagian Arakan tinggal di dalam penggilingan padi tua di Shwezarr, ruang bioskop tua dan Vihara-vihara," tambah saksi.
Menurut seorang tetua dari Maungdaw, setiap malam warga Rakhine lokal dari luar daerah mengadakan pertemuan di Vihara untuk membicarakan bagaimana menyetok senjata-senjata mematikan dan menyerang Muslim Rohingya.
Tetua itu menambahkan bahwa pertemuan itu dipimpin oleh para Bhiksu dan para pejabat tinggi dari kota Maungdaw dan sebagian besar senjata di simpan di Vihara-vihara.
Sama seperti yang dilaporkan oleh seorang jurnalis Burma sebelumnya, yang dilansir Rohingya Blogger, bahwa Vihara memiliki peran penting dalam mendistribusikan senjata untuk digunakan melawan Muslim Rohingya di Arakan.
Persenjataan yang tak sebanding
Di Arakan, sudah menjadi layaknya medan tempur bagi etnis Buddha Rakhine. Mereka tak tanggung-tanggung memasok senjata dan bahkan membuatnya sendiri.
Menurut laporan warga desa dari Maungdaw, yang diterima Kaladan Press, warga Buddhis Rakhine dari Maungdaw membawa beberapa pandai besi dari kota-kota di Arakan ke distrik kota no. 6 untuk membuat pedang-pedang panjang dan senjata-senjata mematikan lainnya. Mereka membuat senjata-senjata itu di atas gunung di dekat gerbang empat mil. Di daerah-daerah empat mil, ada markas-markas Hluntin (polisi anti huru-hara), pos pemeriksaan Nasaka (pasukan penjaga perbatasan) dan kantor polisi.
Masyarakat Rakhine terlihat merencanakan untuk menyerang masyarakat Rohingya di Maungdaw dengan persenjataan yang kuat dan dukungan otoritas. Sementara itu Muslim Rohingya yang masih bertahan tidak memiliki kekuatan yang sebanding, jangankan pedang atau senjata api bahkan pisau dapur saja mereka tidak punya, sebab rumah mereka sering dijarah. (arrahmah.com)

Sabtu, 11 Agustus 2012

Info - Salurkan bantuan Anda, bantu Muslim Rohingya


Sejak sebelum 1990-an, muslim Rohingya tak kurang dari 7 juta  di Burma yang kini Myanmar. Kini diperkirakan hanya tinggal 700 ribu jiwa. Itu pun mengalami pembersihan etnik sejak 1948 hingga sampai hari ini.


Mereka lari mengungsi ke negara-negara tetangga. Bangladesh sebagai “suaka tradisional” Muslim Rohingya, tidak cukup kondusif menolong pengungsian besar-besaran di wilayahnya.

Rohingya, komunitas terusir dari tempat lahir mereka, Myanmar. Seolah tak jelas apa kebangsaan mereka. Terlunta-lunta, ditolak di mana-mana.


Mereka terapung di laut, dililit haus, lapar, sebagian bahkan tewas dan jasadnya harus ditenggelamkan di lautan. Kita pasti bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Di bulan yang baik demi kebaikan pula, Mari kita bantu mereka!


Rekening Donasi Rohingya
a/n. Aksi Cepat Tanggap 

1. BCA 676 030 0860 

2.  BSM 7013 884 662 
3.  Mandiri 128 000472 3620  
4.  Permata syariah 0970 613 048 

Atau Kunjungi http://www.act.or.id/


Semoga dukungan kita pada saudara muslim di Rohingya, mendatangkan keberkahan-Nya, dan menyelamatkan kita dari kemurkaan-Nya. Insya Allah, Amin...

Atjehcyber.net/kipasbis.com




Istri PM Turki menangis melihat Kondisi Muslim Rohingya sangat memilukan

KIPASBIS.com - Istri Perdana Menteri Turki Recep Tayyip ErdoÄźan yang bernama Emine ErdoÄźan bersama Menteri Luar Negeri Ahmet DavutoÄźlu mengunjungi Arakan pekan ini untuk melihat kondisi para pengungsi Muslim Rohingya akibat kekerasan yang terjadi dan memberikan bantuan kepada mereka.
ErdoÄźan sebelumnya telah mengumumkan rencana kunjungan delegasinya dalam acara di sebuah saluran TV pada Ahad pekan lalu, mengatakan bahwa istrinya Emine dan puterinya SĂĽmeyye akan berangkat menuju Arakan pada hari Rabu (8/8/2012)  bersama DavutoÄźlu dan tim lainnya.
Dalam video yang dipublikasikan di Youtube pada hari Jum'at (10/8), DavutoÄźlu bersama istri ErdoÄźan beserta puteri dan tim lainnya mengunjungi salah satu pengungsian, kamp Baduba, di negara bagian Arakan, Myanmar (Burma). Mereka berbicara dengan para pengungsi dan memberikan bantuan.
Rombongan delegasi Turki disambut oleh para pengungsi Rohingya di sepanjang jalan, mereka mengucapkan salam, dan nampak ada harapan di wajah mereka agar delegasi internasional akan terus mengulurkan bantuan.
Saat sedang berjumpa dengan pengungsi Muslim Rohingya, istri ErdoÄźan tak kuasa menahan air matanya lantaran sedih melihat kondisi Muslim Rohingya yang sangat memilukan. Seorang pengungsi sambil menangis mengatakan kepada DavutoÄźlu bahwa Muslim di sana mengalami penindasan dan mereka butuh pertolongan, kemudian penerjemah negara menerangkannya kepada DavutoÄźlu , begitupun sebaliknya.
[Arrahma]

Selasa, 07 Agustus 2012

Rofiq "Ulama rohingya sudah habis di Myanmar"

Kipasbis.com - Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar, saat Muhammad Rofiq mengenang kembali kampung halamannya di Myanmar. Kesedihannya bertambah, ketika saudara Muslim Indonesia mendekap tubuh Rofiq sebagai tanda simpati.


Rofiq adalah salah satu pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar yang kini tinggal di Cisarua, Bogor. Ia bersama istri dan kedua anaknya baru sembilan berada di Indonesia. Sebelumnya ia terlunta-lunta di Bangladesh dan Thailand. Kepada Voa-Islam, Rofiq yang didampingi saudaranya, Din Muhammad, berkisah tentang kondisi terakhir Myanmar dengan bahaya Melayu.

“Saya baru 9 bulan berada di Indonesia. Di Bogor, saya tinggal bersama istri, dua anak, satu saudara saya. Sebelumnya saya mengungsi di Bangladesh selama satu bulan), Thailand Selatan (Patani) selama 1 tahun, perahu Nelayan, saya singgah di Tanjung Pinang (Indonesia) selama 8 hari, lalu ke Medan 3 hari 3 malam, sempat ke Kuningan (42 hari), hingga berakhir di Bogor. Saya difasilitasi oleh IOM dan UNHCR. Di sini, saya dikasih makan dan rumah kecil,” kata Rofiq.

Sebelum mengungsi, Rofiq bekerja sebagai penjual ikan di Arakan. Ia mencoba mengingat kembali pembantaian demi pembantaian yang dilakukan oleh junta militer Myanmar. “Rakyat Buddis pake baju militer, mereka bercampur dengan tentara, untuk membakar masjid. Pukul 02.00-03.00 dinihari (waktu setempat), tentara mendatangi rumah-rumah penduduk. Anak-anak usia 12 sampai 17 tahun mereka bawa dengan mata tertutup dan tangan terikat, untuk kemudian diperkosa dan dibunuh. Ada diantaranya yang dipotong tangannya.”

“Selanjutnya, rumah warga  dirampok, di bom Molotov. Yang jelas, sudah 36 masjid yang dibakar, 76 rumah yang juga dibakar, belum di tempat lain. Sungai-sungai penuh dengan orang mati.

Ketika ditanya apakah Muslim Rohingya melakukan perlawanan? Kata Rofiq, kalau kami bunuh satu orang saja, maka mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi. “Kita  lawan, tapi tidak menang. Karena jumlah kami sedikit dan tidak memiliki senjata. Kami hanya menggunakan pisau dan kayu saja.”

Bagaimana dengan ulama Rohingya di sana? “Semua ulama sudah banyak yang ditangkap. Mereka dibunuh. Ada 10 ulama yang berjenggot ditutup matanya lalu dibawa ke mobil untuk ditangkap. Ulama di Myanmar sudah habis. Tidak ada lagi ulama yang menyerukan jihad,” ujar Rofiq sedih dan mengaku tak bisa tidur memikirkan kekejian junta militer Myanmar.

Selama di Bogor, Rofiq berusaha untuk mencari informasi, namun ia kehilangan kontak dengan saudara-saudaranya di Myanmar. Ia hanya bisa berkomunikasi dengan sesama pengungsi di Medan. “Saya kontak ke Medan. Sudah tiga kali saya tanya, saya tidak dapat informasi terkini di Myanmar. Pernah saya kontak ke Myanmar, pulsanya cukup besar, Rp. 8000/menit. Saat ini Muslim Rohingya menyebar di sejumlah tempat di Indonesia, mereka ada di Tanjung Pinang, Medan,  Kalideres (Jakarta), Kuningan dan Bogor.”
Saat ditanya, apakah anda akan memilih Indonesia sebagai tempat suaka atau sekedar transit saja untuk menuju negara tujuan, Australia? “Saya lebih suka di Indonesia. Di Australia, Muslimnya sedikit.

[voa-islam]

Minggu, 05 Agustus 2012

Muhammad Raffiq " mereka memotong tangan dan kaki anak Muslim"

Kipasbis.com - Entah setan dan hantu atau drakula  jenis apa yang merasuki kelompok mayoritas Budhis dan militer Myanmar, sehingga dengan tanpa ekspresi dan biadabnya  menyerang, menyiksa, memperkosa, membantai dan membunuhi Muslim Rohingya. Tak peduli, anak-anak dan wanita, mereka bantai.

Sungguh luar biasa penderitaan saudara-saudara kita Muslim Rohingya. Mereka mengalami penyiksaan, pemerkosaan bagi Muslimahnya, hingga pembakaran rumah, pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan secara keji oleh kelompok mayoritas Budhis Rakhine dan militer Myanmar.
Hal ini terungkap dalam testimoni Muhammad Rafiq, salah satu pengungsi Rohingya pada acara Dialog InteraktifRohingya Terlunta, Wajah Kaum Minoritas yang Tertindas, yang diselenggarakan oleh International Conference of Islamic Scholars (ICIS), di Jakarta, Sabtu (4/8/2012).

Hadir dan memberikan pandangannya dalam dialog interaktif ini perwakilan Komnas HAM Asean dari Indonesia, Kemenlu, Ketua Komnas HAM Indonesia, wakil Muhammadiyah, PBNU dan Pemred HU Republika. Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi bertindak selaku "tuan rumah" dalam dialog ini.
Para peserta dialog dan hadirin terdiri dari berbagai kalangan, ormas Islam, Katolik, dan para wartawan yang antusias menyimak jalannya acara. Dan, dialog pun menjadi menarik saat Muhammad Rafiq membeberkan kelakuan mayoritas Budhis dan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya.
"Militer Myanmar dan Budhis Rakhine pada malam hari memasuki rumah kami, menyiksa kami, memperkosa ana-anak perempuan, dan melarang kami memasak," cerita Rafiq.
"Tak sedikit, jika kami melawan, lalu kami, anak-anak kami dibunuh, dan rumah-rumah kami dibakar," lanjutnya.
Rafiq dan sejumlah pengungsi lainnya  sudah sekitar 9 bulan mengungsi di Indonesia. Di antara pengungsi, Rafiq adalah yang lumayan bisa berbahasa Indonesia meski masih terbata-bata. Dia berusaha menggambarkan kebiadaban kelompok mayoritas Budhis dan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya.
Menurut Rafiq, sering pula didapati Budhis memakai seragam militer, lalu menyerang Muslim. Mereka tanpa bsa-basi memasuki rumah-rumah Muslim, lalu menyiksa dan memotong tangan dan kaki anak-anak Muslim.

Keduanya, baik militer maupun Budhis saling membantu menyerang, menyiksa, membantai dan membunuh Muslim Rohingya. Jadi, cerita Rafiq, keduanya (militer dan Budhis) sama-sama melakukan penyerangan terhadap Muslim Rohingya. Ia membantah informasi yang menyebutkan seakan hanya militer Myanmar yang melakukan tindakan biadab, tapi kelompok mayoritas Budhis juga tak kalah sadisnya.
Tak berhenti sampai di situ, "Jika kami melawan sedikit saja, maka kami semua dihabisi, setelah itu rumah-rumah kami dibakar," tuturnya. "Mereka membakar rumah kami dengan bom-bom molotov yang sudah disiapkan."
Tak hanya rumah, masjid-masjid pun dibakar. Tak boleh ada masjid-masjid yang berdiri tegak di wilayah Muslim Rohingya. Masjid-masjid dibakar setelah mereka mendapati Muslim Rohingya ada yang memasuki masjid. Karena itulah, mereka melarang Muslim masuk masjid, melarang shalat di masjid, sehingga tak ada yang berani datang ke masjid.
Parahnya lagi, Muslim Rohingya dilarang makan. Mereka akan menangkapi Muslim Rohingya yang kedapatan sedang memasak. Pokoknya tak boleh ada yang memasak. Mereka ingin Muslim Rohingya tak memiliki makanan. Mereka  melarang Muslim untuk membeli makanan atau bahan-bahan untuk memasak. Karena itu, menurut Rafiq, mereka pernah dua bulan tak makan. Akhirnya, banyak di antara mereka yang makan batang pohon pisang.
Tak bisa dipungkiri, pada intinya Muslim Rohingya mengalami kekerasan dengan sentimen keyakinan yang tinggi. Karenanya, kata Rafiq, jika Muslim Rohingya mau aman, ingin menghindari kekerasan mereka, itu bisa, asalkan bersedia mengganti keyakinan menjadi Budha. "Itu baru bisa aman," ujar Rafiq yang saat memberikan testimoni ditemani seorang pengungsi lainnya, Din Muhammad.

 (Arrahma/salam-online)

Rabu, 01 Agustus 2012

Muslim Rohingya, Terima kasih Aceh

Masih ingat dengan ‘manusia perahu’ asal Rohingya yang terdampar di Aceh beberapa waktu lalu? kini, di saat derita mereka belum berakhir dan terus mengalami penindasan, dua surat ucapan terima kasih mereka kirimkan kepada masyarakat Aceh atas bantuan yang telah diberikan ketika mereka terdampar di daerah ini.


Satu surat atas nama Partai Arakan National Congress (ANC) dan satu surat dari Asosiasi Rakyat Rohingya Birma di Uni Emirat Arab  dikirimkan ke markas pusat Jamaah Muslimin (Hizbullah) di Cileungsi Bogor dan ditembuskan khusus ke redaksi Serambi Indonesia.
Jamaah Muslimin (Hizbullah) melalui perwakilannya di Aceh, bersama-sama masyarakat pernah ambil bagian dalam misi kemanusiaan menyantuni muslim Rohingya.

Berikut salah satu surat (telah diterjemahkan-red) yang dikirim khusus berkenaan ucapan terima kasih mereka untuk masyarakat Aceh.

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Kami, Partai Arakan National Congress (ANC) dari Arakan, sebuah partai politik Arakan yang dibentuk oleh etnis Rohingya asal Arakan, bertujuan mencari keadilan, hak-hak asasi manusia, demokrasi dan kebebasan bagi kaum Rohingya dan seluruh rakyat Arakan. 

Kami berterima kasih kepada seluruh umara dan makmum Jamaah Muslimin (Hizbullah) Indonesia atas rasa persaudaraan dan kebaikannya kepada manusia perahu Rohingya yang kehilangan hak-haknya, yang pernah terdampar di Indonesia. 

Kami berterima kasih dan menyampaikan penghargaan dan syukur  sepenuh hati kepada semua saudara-saudari, organisasi, kelompok dari Aceh atas simpati mereka, membantu dan kebaikan persaudaraan yang ditujukkan kepada manusia perahu Rohingya yang tertindas yang terdampar dalam perjalanan keimanan mereka menuju tanah yang penuh berkah, di suatu tempat di dunia yang kejam ini.

Kami, kaum minoritas Rohingya asal Arakan yang dizalimi oleh penguasa rezim militer Burma.

Kami tidak mendapat pertolongan di mana-mana, di dalam, maupun di luar tanah air kami dan hanya saudara saudari muslim Indonesia yang kami lihat ada secercah cahaya harapan dan mengungkapkan persaudaraan kemanusiaan pada kami, yang kami cari selamanya.     

Kami sungguh melihat dan yakin bahwa sebagai negeri muslim terbesar di bumi ini dan sebagai negara demokrasi yang bersemangat di kalangan dunia Islam, Indonesia dengan rakyatnya akan memimpin kami menuju tatanan dunia yang setara, adil dan bebas bagi segenap manusia dan seluruh ummat Islam.

Indonesia dan rakyatnya memiliki moral, misi kemanusiaan dan islami serta bertanggungjawab untuk memimpin ummat ke arah yang lebih bersatu lebih mulia, lebih adil, untuk seluruh umat manusia yang lebih baik secara umum dan umat Islam secara umum pula. 

Kami semua akan bersama kalian, dalam perjalanan menuju penegakan kesatuan Islam yang lebih nyata, persaudaraan Islam dan menuju umat yang lebih bermartabat, kuat dan terhormat.

(acehtribunnews)

Saksi Rohingya bercerita "tentara ikut bantai kami"

Human Right Watch (HRW) pada Rabu 1 Agustus 2012 mengeluarkan laporan yang menunjukkan kekerasan oleh aparat keamanan terhadap Muslim Rohingya pada bentrokan antara Juni-Juli lalu. Dalam laporan tersebut, HRW mengambil kesaksian 57 warga Rohingya dan Rakhine yang terlibat bentrok.

Laporan setebal 56 halaman itu berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini: Kekerasan Sektarian dan Pelanggaran di Arakan." HRW mengecam pemerintah Myanmar yang dinilai tidak mampu melindungi warga Rohingya, malah justru ikut serta membunuh dan memperkosa mereka. Dalam laporan, tidak disebutkan nama asli saksi, demi keamanan mereka.

Salah seorang Muslim Rohingya berusia 36 tahun mengatakan bahwa tentara Myanmar ikut berada dalam barisan etnis Rakhine di Arakan, turut menembaki warga. Polisi hanya melihat saat warga Rohingya disabet parang dan tongkat.


"Mereka (Arakan) membakar rumah-rumah. Ketika (warga Rohingya) mencoba memadamkan api, paramiliter menembaki mereka. Massa memukuli mereka dengan tongkat besar. Kami mengumpulkan 17 mayat dengan bantuan tentara. Saya cuma bisa mengenali satu orang, namanya Mohammad Sharif. Saya lihat peluru menembus dada kirinya," kata saksi.

Saksi lainnya yang berusia 28 tahun membenarkan hal ini. Dia mengatakan bahwa tentara menembaki mereka dari dekat. Dia bahkan mengatakan korban saat itu berjumlah 50 orang. Saksi lain berusia 36 tahun mengatakan korban jatuh terdiri dari wanita dan anak-anak. "Saya lihat enam orang tewas. Satu wanita, dua anak-anak, dan tiga lelaki," kata dia.
Seorang wanita Rohingya di Sittwe berusia 38 tahun mengatakan pada HRW bahwa pada Juni lalu 50 orang Arakan mengepung rumahnya. Saat itu, sama sekali tidak ada kehadiran polisi dan aparat keamanan.
"Mereka menunjuk rumah kami dan bilang 'Ini adalah rumah Muslim' lalu 10 orang naik ke atas. Ipar saya berusaha kabur dengan lompat keluar jendela. Ketika melompat, orang-orang di luar menangkap dan menggorok lehernya. Kami sembunyi di balik pintu yang sulit ditembus. Mereka bilang 'keluar atau kami bakar, pilih mana?'," kata wanita itu.
Suami wanita tersebut adalah seorang pengusaha yang kerap berhubungan dengan polisi. Ketika suaminya menelepon kenalan polisinya, tidak diangkat. Dia, suami, mertua, dua pembantu dan tetangganya dipukuli. Beruntung, massa lainnya melerainya. Jika tidak, dipastikan mereka tewas.
Lalu massa mengarak mereka ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan, mereka jadi bulan-bulanan massa. "Ketika kami sampai, ada 200-300 orang polisi. Beberapa dari mereka teman suami saya. Dia (suami) bertanya, 'kenapa tidak melindungi kami?' polisi itu menjawab 'Kami belum mendapat perintah untuk bergerak. Kami masih menunggu perintah'," lanjutnya lagi.
Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Namun, jumlahnya diperkirakan jauh lebih banyak daripada itu. Dalam laporan HRW, aparat dikatakan melarang Muslim Rohingya untuk mengubur kerabat mereka yang tewas dengan cara Islami, beberapa akhirnya dikremasi.
"Saat kekerasan terjadi pada 8 Juni, mayat-mayat ditumpuk dekat jembatan. Kami tidak boleh mengambilnya, untuk mengubur secara agama. Saat ini, jika seseorang melihat ke bawah jembatan, mereka bisa melihat mayat di bawahnya," kata seorang saksi lain. 

(vivanews)

Berbagi klik disini

Twitter Facebook Digg

 

Assalamualaikum Syehdara

Silahkan Join jika ingin berbagi pengetahuan

Untuk sementara forum belum tersedia

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!