BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Explosive
(bersifat mudah meledak) Huruf kode: E
Bahan dan
formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ,,explosive“ dapat meledak dengan
pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen
atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi
tinggi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang bergerak sangat cepat.
Resiko ledakan dapat ditentukan dengan metode yang diberikan dalam Law for
Explosive Substances Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat dengan
bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai contoh, asam
nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti
aseton, dietil eter, etanol, dll. Produksi atau bekerja dengan bahan mudah
meledak memerlukan pengetahuan dan pengalaman praktis maupun keselamatan
khusus. Apabila bekerja dengan bahan-bahan tersebut kuantitas harus dijaga
sekecil/sedikit mungkin baik untuk penanganan maupun persediaan/cadangan.
Frase-R untuk
bahan mudah meledak : R1, R2 dan R3 Sebagai contoh untuk bahan yang dijelaskan
di atas adalah 2,4,6-trinitro toluena (TNT)
Penggunaan bahan
eksplosife dalam pembuatan Bahan peledak kuat berupa campuran
yang sering digunakan baik dalam lingkungan militer maupun sipil dengan tujuan
sebagai penghancur semakin luas sehingga
kecelakaan yang diakibatkan oleh proses pengerjaan tersebut juga sering banyak
terjadi. Pekerjaan dengan menggunakan bahan eksplosife merupakan salah satu
proses yang penuh resiko karena selalu berhubungan dengan bahan – bahan yang
mudah terbakar dan meledak terutama sekali pada pabrik petasan yang tidak
berizin. Kecelakaan yang terjadi sebenarnya dapat dikurangi atau dihindari
apabila kita sebagai pekerja dilingkungan bahan peledak ini selalu
memperhatikan keselamatan kerja dengan mempergunakan APD (Alat Pelindung Diri)
dengan baik dan benar serta memiliki penguasaan cara – cara pencegahan bahaya
akibat proses dari reaksi kimia bahan eksplosife. Untuk itu, diperlukan pengetahuan
yang cukup mengenai K3.
Pekerjaan dan
pemeliharaan Bahan Eksplosife mempunyai sifat bahaya secara alamiah. Oleh sebab
itu masalah bahaya harus ditempatkan pada urutan pertama program keselamatan
dan kesehatan kerja. Di sebagian besar negara , keselamatan di tempat kerja
masih memprihatinkan. Seperti di Indonesia, rata-rata pekerja usia produktif
(15 – 45 tahun) meninggal akibat kecelakaan kerja. Kenyataanya standard
keselamatan kerja di Indonesia paling buruk dibandingkan dengan negara-negara
lain di kawasan Asia Tenggara.
Kecelakaan
kerja bersifat tidak menguntungkan, tidak dapat diramal, tidak dapat dihindari
sehingga tidak dapat diantisipasi dan interaksinya tidak disengaja. Berdasarkan
penyebabnya, terjadinya kecelakaan kerja dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu
langsung dan tidak langsung. Adapun sebab kecelakaan tidak langsung terdiri
dari faktor lingkungan(zat kimia yang tidak aman, kondisi fisik dan mekanik)
dan faktor manusia(lebih dari 80%).
Untuk menghindari
resiko yang tidak diinginkan dan pengetahuan yang memadai maka diperlukan
pembahasan lebih lanjut mengenai materi ini.
BAB II
2.1. Definisi Bahan
Eksplosif
Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia, yang
didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk
padat , cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan,
gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat
cepat dan hasil reaksinya sebagian atau campuran seluruhnya berbentuk gas yang
disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil. Panas
yang dihasilkan dari reaksi peledakan tersebut sekitar 4000 derajat celcius.
Adapun tekanannya, menurut Langerfos dan Kihlstrom (1978), bisa
mencapai lebih dari 100.000 atm. Sedangkan, energi per satuan waktu yang
ditimbulkan sekitar 25.000 MW atau 5.950.000 kkal/s. Energi yang sedemikian
besar itu bukan merefleksikan jumlah energi yang memang tersimpan di dalam
bahan peledak begitu besar,namun kondisi ini terjadi akibat reaksi peledakan
yang sangat cepat, yaitu berkisar antara 2.500-7.500 m/s.
Terdapat
6 (enam) klasifikasi bahan eksplosif :
Kategori 1 :
Bahan,
campuran, dan barang yang mempunyai bahaya ledakan massal (ledakan massal ini
merupakan salah satu efek yang sebenarnya mempengaruhi hampir seluruh muatan
dan terjadi secara spontan)
Kategori 2 :
Bahan,
campuran, dan barang yang mempunyai bahaya ledakan terproyeksi tetapi tidak
menimbulkan ledakan massal
Kategori 3 :
Bahan,
campuran, dan barang yang mempunyai bahaya kebakaran, dan bahaya letusan minor
atau menimbulkan bahaya ledakan terproyeksi minor tetapi bukan bahaya ledakan
massal :
- Pembakaran dengan menimbulkan
pancaran panas
- Yang menyala satu setelah yang
lain, menyebabkan letusan minor atau efek ledakan terproyeksi atau
keduanya
Kategori 4 :
Bahan,
campuran dan barang yang menimbulkan bahaya yang tidak signifikan: yaitu bahan,
campuran dan benda yang hanya menyebabkan bahaya pembakaran atau bahaya
inisiasi yang rendah. Efek terbatas hanya pada kemasan dan diperkirakan tidak
ada penyorotan fragmen yang ukurannya cukup besar maupun jarak yang cukup jauh.
Sumber api dari luar tidak dapat menyebabkan ledakan spontan yang nyata pada
seluruh isi kemasan.
Kategori
5 :
Bahan atau campuran yang sangat tidak sensitif, yang mempunyai
bahaya ledakan massal, yaitu bahan dan campuran yang memiliki bahaya ledakan
massal namun besifat sangat tidak sensitif, sehingga kecil kemungkinan
tejadinya inisiasi atau peralihan dari pembakaran menjadi ledakan dibawah
kondisi normal.
Kategori 6 :
Benda
yang sangat tidak sensitif yang tidak mempunyai bahaya ledakan massal, yaitu
benda yang hanya mengandung bahan atau campuran yang mudah meledak yang
bersifat sangat tidak sensitif, dan menunjukkan kemungkinan dapat diabaikannya
kejadian inisiasi atau perambatan nyala yang tidak disengaja.
Ledakan
tidak stabil
|
Kategori
1
|
Kategori
2
|
Kategori
3
|
Kategori
4
|
Kategori
5
|
Kategori
6
|
Atau
|
||||||
Bahaya
|
Bahaya
|
Bahaya
|
Bahaya
|
Awas
|
Bahaya
|
__
|
Bahan
takstabil mudah meledak
|
Bahan
mudah meledak; bahaya ledakan hingga bahan tak bersisa
|
Bahan
mudah meledak; bahaya lontaran hebat
|
Bahan
mudah meledak; bahaya kebakaran, bahaya serpihan/ semburan, atau bahaya
lontaran
|
Bahaya
kebakaran atau bahaya lontaran
|
Dapat
meledak hingga tak bersisa apabila kontak dengan api
|
Tanpa
pernyataan bahaya
|
2.2. Sifat Eksplosif
Sifat eksplosif bahan kimia ditentukan oleh sifat reaksinya dengan
senyawa – senyawa tertentu, antara lain :
a. Menimbulkan panas reaksi sangat tinggi.
b. Reaksinya disertai ledakan.
Contoh reaksi antara gas metana dengan dan oksigen, jika metana
dan oksigen berada disuatu ruangan dengan konsentrasi oksigen lebih tinggi
dibandingkan metana, maka adanya api sedikit saja sudah bisa terbakar dan
timbulya ledakan karenareaksi yang terjadi sangat eksotermis.
2.3. Klasifikasi
Bahan Peledak
Bahan kimia yang biasa dipergunakan sebagai bahan peledak sangat
banyak jenisnya. Pengelompokkan bahan-bahan peledak ini juga dapat dilakukan
dengan berbagai cara, diantaranya berdasarkan komposisi senyawa kimia,
kegunaannya dan lingkungan penggunaannya.
1.
Berdasarkan komposisi senyawa
kimia
Pengelompokkan bahan peledak
secara ilmiah berdasarkan komposisi senyawa kimia dibagi atas bahan peledak
senyawa murni (tunggal) dan bahan peledak campuran.
a.
Bahan
Peledak Senyawa Murni (Tunggal)
Bahan ini dikelompokkan atas dua kelompok, yaitu bahan peledak
murni (Primary Explosive) dan bahan peledak kuat (High Explosive)
- Bahan peledak murni (Primary Explosive)
Yang termasuk di dalamnya adalah : merkuri, fulminate, timbal
azida, Sianurat triazia (CTA), Diazonitrofenol (DDNP), tetrasen,
heksametilendiamin Peroksida (HMTD)
-
Bahan peledak kuat ( High Explosive)
Trinitrotoluen (TNT), dinitrobenzene, dinitrotoluen (DNT),
dinitrofenol, ammonium pitrat, trinitro-m-xylen (TMX), trinitroanisol (TNA),
etilen gloikol dinitrat (EGDN), nitroselulosa (NG), nitrogliserin (NG),
ammonium nitrat, dipentaaeritritol (Dipen), dan lain-lain.
b.
Bahan
Peledak Campuran
Bahan peledak jenis ini banyak digunakan karena memiliki banyak
keunggulan daripada bahan peledak tunggal. Bahan peledak campuran ini
dikelompokkan atas bahan peledak kuat (High Explosive) dan bahan peledak lemah
(Low Explosive. - Bahan peledak kuat (High Explosive) Bahan peledak jenis ini
memiliki kecepatan denotasi antara 1.000-8.500 m/s. Bahan peledak kuat berupa
campuran yang sering digunakan baik dalam bidang militer maupun sipil dengan
tujuan sebagai penghancur. Yang tergolong bahan peledak kuat adalah : amatol,
ammano, amonium nitrat fuel oil (ANFO), siklotol, dinamit, oktol, pentolik,
pikratol, bomplastik.
-
Bahan peledak lemah (Lom Explosive)
Bahan peledak lemah bukan merupakan bahan ledak yang penghancur,
tetapi digunakan sebagai bahan isian pendorong pada amunisi, bahan pendorong
ini dikenal juga dengan nama Propelan. Bahan peledak jenis ini memiliki
kecepatan detonasi antara 400-800 m/s. Ynag tergolong bahan peledak jenis ini
adalah : bubuk hitam (black powder), bubuk tak berasap (smokeless powder),
bahan pendorong roket, dan bahan pendorong cair.
2. Berdasarkan kegunaan
Berdasarkan kegunaannya, dibedakan
menjadi 5 golongan, yaitu:
a. Bahan peledak “Blasting”, yaitu
bahan peledak yang digunakan untuk pertambangan
b. Bahan peledakk “Catridge”,
digunakan sebagai pembentuk metal projectile yang berkemampuan tembus atau
potong
c. Bahan peledak “Propellant”,
digunakan sebagai pembentuk gas pendorong dalam peluru senjata atau motor roket
d. Bahan peledak “Fuse”, bahan
peledak yang dipergunakan sebagai pembentuk panas, gas, warna dan sebagainya
e. Bahan peledak “Pyrotechnic”,
bahan peledak yang digunakan sebagai pemula suatu rangkaian proses
peledakan
3.
Berdasarkan lingkungan penggunaan
a.
Bahan peledak militer
b.
Bahan peledak komersial
2.4. Reaksi Dan Produk Peledakan
Peledakan akan memberikan
hasil yang berbeda dari yang diharapkan karena tergantung pada kondisi
eksternal saat pekerjaan tersebut dilakukan. Panas merupakan awal terjadinya
proses dekompisisi bahan kimia pembentuk bahan peledak yang menimbulkan
pembakaran. Proses dekomposisi bahan peledak diuraikan sebagai berikut :
1. Pembakaran
1. Pembakaran
Pembakaran adalah reaksi
permukaan yang eksotermis dan dijaga keberlangsungannya oleh panas yang
dihasilkan dari reaksi itu sendiri dan produknya berupa pelepasan gas-gas.
2. Deflagrasi
Merupakan proses kimia
eksotermis dimana transmisi dari reaksi dekomposisi didasarkan pada
konduktivitas termal (panas). Contoh pada peledakan low explosive, sebagai
berikut :
- Natrium nitrat + Charcoal + belerang
20 NaNO3(s) + 30 C(s) + 10 S(s)
-> 6 NO2CO3(s) + Na2SO4(aq) + 3 Na2S(aq) + 14 CO2(g) + 10 CO(g) + 10 N2(g)
3. Ledakan
Menurut Berthlot, ledakan adalah
ekspansi seketika yang cepat dari gas menjadi bervolume besar dari sebelumnya
diiringi suara keras dan efek mekanis yang merusak.
4. Detonasi
Detonasi adalah proses
kimia – fisika yang mempunyai kecepatan reaksi sangat tinggi, sehingga
menghasilkan gas dan temperatur yang sangat tinggi kecepatan reaksi yang sangat
tinggi tersebut menyebarkan tekanan pas ke seluruh zona peledakan dalam bentuk
gelombang tekan kejut dan proses ini berlangsung terus-menerus untuk
membebaskan energi hingga berakhir dengan ekspansi hasil reaksinya. Contoh
proses detonasi terjadi pada jenis bahan peledakan, antara lain :
- TNT (Trinitrotoluen)
C7H5N3O6(s) -> 1,75 CO2(g) +
2,5 H2O(l) + 1,5 N2(g) + 5,25 C(s)
- ANFO
3 NH4NO3(s) + CH2 ->
CO2(g) + 7 H2O(l) + 3 N2(g
- NG (Nitrogliserin)
C3H5N3O9(s) -> 3 CO2(g)
+ 2,5 H2O(l) + 1,5 N2(g) + 0,25 O2(g)
2.5. Penyimpanan
Bahan Kimia Explosive
Terhadap bahan tersebut ketentuan penyimpananya sangat ketat,
letak tempat penyimpanan harus berjarak minimum 60[meter] dari sumber tenaga,
terowongan, lubang tambang, bendungan, jalan raya dan bangunan, agar pengaruh
ledakan sekecil mungkin. Ruang penyimpanan harus merupakan bangunan yang
kokoh dan tahan api, lantainya terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan
loncatan api, memiliki sirkulasi udara yang baik dan bebas dari kelembaban, dan
tetap terkunci sekalipun tidak digunakan. Untuk penerangan harus dipakai
penerangan alam atau lampu listrik yang dapat dibawa atau penerangan yang
bersumber dari luar tempat penyimpanan. Penyimpanan tidak boleh dilakukan
di dekat bangunan yang didalamnya terdapat oli, gemuk, bensin, bahan sisa yang
dapat terbakar, api terbuka atau nyala api. Daerah tempat penyimpanan
harus bebas dari rumput kering, sampah, atau material yang mudah terbakar, ada
baiknya memanfaatkan perlindungan alam seperti bukit, tanah cekung belukar atau
hutan lebat.
a.
Bahan
Kimia Eksplosif
Bahan kimia eksplosif ada yang dibuat sengaja untuk tujuan
peledakan atau bahan peledak seperti tri nitro toluen (TNT).
Nitrogliserin dan Ammonium Nitrat.
Bahan-bahan tersebut amat peka terhadap panas dan pengaruh mekanis
(gesekan atau tumbukan). Debu eksplosif, debu-debu ini dalam insustri seperti
debu karbon dalam industri batubara. Zat warna Diazo dalam pabrik zat warna dan
magnesium dalam industri baja. Debu-debu ini yang sering menimbulkan ledakan.
Campuran eksplosif, pencampuran bahan oksidator dan reduktor dapat
menimbulkan ledakan di dalam suatu reaktor maupun dalam suatu penyimpanan.
b.
Contoh
campuran eksplosif
Oksidator
|
Reduktor
|
KCIO₃, NaNO₃
Asam Sitrat
Kalium Permanganat
Krom Trioksida
|
Karbon, Belerang
Etanol
Gliserol
Hidrazin
|
c.
Tabel
Bahan eksplosif di Indonesia
Industri
|
Bahan
produksi/digunakan
|
Peledak
Amunisi
Industri gas
Mercon
Korek api
Zat warna
|
NHNO, TNT
Campuran
Asetilen, H, O,
NaNO, KCIO, C
Azo, Diazo
|
2.6. Pencegahan
Penanganan
diri dan linkungan saat bekerja terhadap Zat Kimia besifat eksplosif terdiri
atas :
a. Menggunakan
perangkat pelindung diri.
b. Mengevaluasi
Kuantitas Reaksi.
c. Melakuan
Operasi Reaksi.
Bahan
sangat reaktif dan mudah meledak yang digunakan di laboratorium memerlukan prosedur
yang tepat.
Langkah berikut untuk menghindari
kecelakaan serius saat bahan yang sangat reaktif digunakan:
1. Gunakan bahan
kimia berbahaya dalam jumlah minimal dengan perlindungan dan pelindung diri
memadai.
2. Siapkan peralatan
darurat.
3.
Rakit semua peranti sedemikian rupa sehingga jika reaksi mulai berjalan di luar
kendali, pelepasan sumber panas, pendinginan bejana reaksi, penghentian
penambahan reagen, dan penutupan pintu geser tudung kimia laboratorium dapat
dilakukan dengan segera. Pelindung ledakan plastik transparan yang tebal harus
digunakan untuk memberi perlindungan ekstra selain jendela tudung kimia.
4.
Jika reaksi berjalan di luar rencana, batasi akses ke area hingga reaksi dapat
dikendalikan. Pertimbangkan kendali pengoperasian jarak jauh.
5.
Beri pendinginan dan permukaan cukup untuk pertukaran panas sehingga
memungkinkan pengendalian reaksi. Bahan kimia yang sangat reaktif memicu reaksi
dengan kecepatan yang meningkat sangat cepat seiring meningkatnya suhu. Jika
panas yang dihasilkan tidak dihilangkan, kecepatan reaksi meningkat hingga
terjadi ledakan. Hal ini sangat menjadi masalah saat meningkatkan skala
eksperimen.
6.
Hindari konsentrasi larutan berlebih, terutama saat reaksi dicoba atau
dinaikkan skalanya untuk pertama kali. Beri perhatian secara khusus pada tingkat
penambahan reagen terhadap tingkat konsumsinya, terutama jika reaksi
dipengaruhi periode induksi.
7.
Ikuti prosedur penyimpanan, penanganan, dan pembuangan khusus untuk reaksi
skala besar dengan reagen organometalik dan reaksi yang menghasilkan bahan
mudah terbakar atau dilakukan dalam pelarut yang mudah terbakar. Jika terdapat
logam aktif, gunakan pemadam api dengan bahan pemadam khusus seperti bubuk
berbahan dasar grai t dengan dicampur pemlastis atau bubuk berbahan dasar
natrium klorida.
8.
Hindari penguraian lambat pada skala besar jika pemindahan panas tidak memadai
atau jika panas dan gas yang berkembang dibatasi. Penguraian beberapa zat yang
diawali dengan panas, seperti peroksida tertentu, hampir terjadi secara instan.
Khususnya, reaksi yang terpengaruh periode induksi dapat berbahaya karena tidak
ada indikasi awal risiko. Kendati demikian, proses hebat dapat terjadi setelah
induksi.
9.
Lakukan penentuan suhu eksotermik mula-mula dengan kalorimeter skala besar dan
lakukan uji berat untuk reaksi yang skalanya dinaikkan dan eksotermik pada suhu
rendah atau mengembangkan panas dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan
bahaya. Dalam situasi dimana evaluasi bahaya operasional formal atau data andal
dari sumber apa pun lainnya menunjukkan bahaya, lakukan review kelompok
berpengalaman 136
10.
Bekerja dengan Bahan Kimia atau ubah kondisi yang skalanya dinaikkan untuk
menghindari kemung-kinan bahwa seseorang mungkin melewatkan bahaya atau
perubahan prosedur yang paling sesuai.
11.
Hindari menyebabkan ledakan i sik dari tindakan seperti menyebabkan
cairan panas mengalami kontak mendadak dengan cairan dengan titik didih lebih
rendah atau menambahkan air ke cairan panas pada rendaman pemanas. Ledakan juga
dapat terjadi saat memanaskan bahan kriogenik dalam wadah tertutup atau memberi
tekanan berlebih pada peralatan dari kaca dengan nitrogen (N2) atau argon saat
regulator diatur dengan tidak tepat. Ledakan i sik hebat juga terjadi
jika sekumpulan partikel sangat panas dituangkan secara tiba-tiba ke air.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
·
Bahan Kimia Peledak (Explosive)
Adalah suatu zat padat atau cair atau campuran
keduanya yang karena suatu reaksi kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan
tekanan yang besar serta suhu yang tinggi, sehingga menimbulkan kerusakan
disekelilingnya.
·
Zat eksplosif amat peka terhadap panas dan
pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan), ada yang dibuat sengaja untuk tujuan
peledakan atau bahan peledak seperti trinitrotoluene (TNT), nitrogliserin dan
ammonium nitrat (NH4NO3).
·
explosive“ dapat meledak dengan
pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa
oksigen atmosferik.
·
Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras
dari bahan. Energi tinggi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang
bergerak sangat cepat.
·
Resiko ledakan dapat ditentukan dengan metode
yang diberikan dalam Law for Explosive Substances Di laboratorium, campuran
senyawa pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi
dapat meledak.
·
Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan
ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti aseton, dietil eter,
etanol, dll.
3.2. Saran
Perlunya penekanan lebih untuk mempelajari akan pengetahuan
tentang bahan Eksplosif dan B3 secara menyeluruh sesuai UU dan aturan yang ada
serta diadakannya fasilitas yang baik guna menunjang pengetahuan tentang bahan
Ekplosif didunia kerja.
Bekerja
dengan Senyawa Reaktif atau Eksplosif Adakalanya, diperlukan penanganan bahan
yang dikenal bersifat eksplosif atau yang mungkin berisi pencemar eksplosif
seperti peroksida. Bahan kimia eksplosif harus diperlakukan dengan sangat
hati-hati. Bekerja dengan bahan eksplosif (atau berpotensi eksplosif) biasanya
memerlukan penggunaan pakaian pelindung, seperti pelindung wajah, sarung
tangan, dan jas laboratorium. Gunakan juga perangkat pelindung seperti
pelindung ledakan, halangan, atau bahkan barikade tertutup atau ruang isolasi
dengan atap atau jendela ledakan. Sebelum melakukan pekerjaan dengan bahan
berpotensi eksklusif, diskusikan eksperimen dengan supervisor laboratorium atau
rekan kerja berpengalaman. Bacalah literatur terkait dan lakukan penilaian
risiko.
Periksa
peraturan setempat dan internasional yang mengatur pengangkutan dan penggunaan
bahan eksplosif. Bawa bahan eksplosif ke laboratorium hanya sesuai kebutuhan
dan dalam jumlah kecil yang cukup untuk eksperimen tersebut. Kurangi penanganan
langsung dan pisahkan bahan eksplosif dari bahan lainnya yang dapat menimbulkan
risiko serius pada nyawa atau properti jika terjadi kecelakaan.
Menggunakan
Perangkat Pelindung
Gunakan
penghalang seperti pelindung, barikade, dan penjaga untuk melindungi pegawai
dan peralatan dari cedera dan kerusakan karena ledakan atau kebakaran.
Penghalang harus sepenuhnya mengelilingi semua area berbahaya. Pada bangku atau
tudung kimia laboratorium, pasang pelindung geser akrilik setebal 0,25 inci
(0,6 cm), dan disekrup sekaligus dilem. Pelindung ini secara efektif dapat
melindungi pegawai laboratorium terlatih dari pecahan kaca dalam ledakan skala
laboratorium. Pelindung harus tersedia setiap kali reaksi berbahaya sedang
berlangsung atau kapan pun bahan berbahaya disimpan sementara. Tetapi,
perlindungan semacam itu tidak efektif terhadap pecahan logam. 137 Bekerja
dengan Bahan Kimia 9
Pintu
geser tudung hanya memberi perlindungan keselamatan terhadap percikan atau
semprotan bahan kimia, kebakaran, dan ledakan kecil. Jika dilakukan lebih dari
satu reaksi berbahaya, reaksi harus dilindungi dari satu sama lain dan
dipisahkan sejauh mungkin.
Saat
menangani bahan berpotensi mudah meledak yang dapat terpicu dalam at/mosfer
lembam, pasang kotak kering dengan jendela kaca keselamatan yang dilapisi
dengan akrilik setebal 0,25 inci (0,6 cm). Perlindungan ini memadai terhadap
sebagian besar ledakan 5-g internal. Kenakan sarung tangan pelindung di atas
sarung tangan kotak kering karet untuk memberi perlindungan tambahan. Gunakan
perangkat keselamatan lain dengan sarung tangan yang memungkinkan manipulasi
dari jarak jauh. Saluran pentanahan yang memadai penting untuk mencegah terpicunya
bahan mudah meledak karena percikan listrik statis dalam kotak kering.
Gunakan
juga senapan anti listrik statis atau pengion anti listrik statis. Untuk
melindungi terhadap detonasi kurang dari batas 20-g yang dapat diterima,
gunakan tudung kimia laboratorium berpelindung atau yang diperkuat atau
barikade yang dibuat dengan pelindung resin polivinilbutiral tebal (1,0 inci,
atau 2,54 cm) dan dinding logam berat. Penghalang ini biasanya dirancang untuk
menahan ledakan 100-g, tetapi batas maksimal 20 biasanya diizinkan karena suara
yang akan dihasilkan jika terjadi ledakan. Tudung kimia semacam itu harus
dilengkapi dengan tangan mekanik yang memungkinkan pegawai mengoperasikan
peralatan dan menangani wadah di dalam tudung dari jarak jauh.Gunakan berbagai
perangkat pelindung, seperti tang dengan gagang pendek maupun panjang, untuk
menangani atau memanipulasi item berbahaya pada jarak yang aman. Gunakan juga
peralatan kendali jarak jauh, seperti lengan mekanik, penggerak keran utama,
penggerak labjack, pengendali kabel jarak jauh, dan monitor televisi rangkaian
tertutup (cctv).












0 komentar:
Posting Komentar