Sabtu, 09 Juni 2012

Makalah Pengelasan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penggunaan las dalam pengerjaan konstruksi semakin luas sehingga kecelakaan yang diakibatkan oleh proses pengerjaan tersebut juga sering banyak terjadi. Pekerjaan pengelasan merupakan salah satu proses pemesinan yang penuh resiko karena selalu berhubungan dengan api dan bahan – bahan yang mudah terbakar dan meledak terutama sekali pada las gas yaitu gas oksigen dan Asetilin . Kecelakaan yang terjadi sebenarnya dapat dikurangi atau dihindari apabila kita sebagai operator dalam mengoperasikan alat pengelasan dan  alat keselamatan kerja dipergunakan dengan baik dan benar, memiliki penguasaan cara – cara pencegahan bahaya akibat proses las. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai K3.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kepentingan pengusaha, pekerja dan pemerintah  di seluruh  dunia. Tingkat  kecelakaan-kecelakaan  fatal  di  negara-negara berkembang  tiga  kali  lebih  tinggi  dibanding  negara-negara  industri.  Di  negara-negara berkembang, kebanyakan  kecelakaan dan penyakit  akibat  kerja  terjadi di  bidang-bidang pertanian,  perikanan  dan  perkayuan, pertambangan  dan  konstruksi. Tingkat  buta  huruf yang tinggi  dan  pelatihan  yang  kurang  memadai  mengenai metode-metode  keselamatan kerja  mengakibatkan tingginya  angka  kematian  yang  terjadi  karena  kebakaran dan pemakaian  zat-zat  berbahaya  yang  mengakibatkan penderitaan  dan  penyakit  yang  tak terungkap  termasuk kanker,  penyakit  jantung  dan  stroke.
Pekerjaan dan pemeliharaan konstruksi mempunyai sifat bahaya secara alamiah. Oleh sebab itu masalah bahaya harus ditempatkan pada urutan pertama program keselamatan dan kesehatan. Di sebagian besar negara , keselamatan di tempat kerja masih memprihatinkan. Seperti di Indonesia, rata-rata pekerja usia produktif (15 – 45 tahun) meninggal akibat kecelakaan kerja. Kenyataanya standard keselamatan kerja di Indonesia paling buruk dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Kecelakaan kerja bersifat tidak menguntungkan, tidak dapat diramal, tidak dapat dihindari sehingga tidak dapat diantisipasi dan interaksinya tidak disengaja. Berdasarkan penyebabnya, terjadinya kecelakaan kerja dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu langsung dan tidak langsung. Adapun sebab kecelakaan tidak langsung terdiri dari faktor lingkungan(zat kimia yang tidak aman, kondisi fisik dan mekanik) dan faktor manusia(lebih dari 80%).
Untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan dan pengetahuan yang memadai maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai materi ini.

1.2   Rumusan Masalah
-          Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya
-          Daftar Pengelompokan Pekerjaan Las

1.3   Tujuan
Guna mengetahui bahaya cahaya dan gas yang timbul pada saat pengelasan serta mampu menghindari penyakit akibat Kerja ( PAK ) dalam  upaya pencegahannya.

1.4   Manfaat
Agar mahasiswa mampu menguasai ilmu Hygiene Industri pada perusahaan serta mengetahui Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya dan juga mengetahui daftar  pekerjaan Las.


BAB II
PENGAMATAN

2.1  Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya

Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama kecelakaan kerja pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik, lokasi kerja yang berbeda-beda, terbuka dan dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, dinamis dan menuntut ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan tenaga kerja yang tidak terlatih. Ditambah dengan manajemen keselamatan kerja yang sangat lemah, akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda pelaksanaan konstruksi yang berisiko tinggi. Untuk memperkecil risiko kecelakaan kerja, sejaka awal tahun 1980an pemerintah telah mengeluarkan suatu peraturan tentang keselamatan kerja khusus untuk sektor konstruksi, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-01/Men/1980.
Peraturan mengenai keselamatan kerja untuk konstruksi tersebut, walaupun belum pernah diperbaharui sejak dikeluarkannya lebih dari 20 tahun silam, namun dapat dinilai memadai untuk kondisi minimal di Indonesia. Hal yang sangat disayangkan adalah pada penerapan peraturan tersebut di lapangan. Rendahnya kesadaran masyarakat akan masalah keselamatan kerja, dan rendahnya tingkat penegakan hukum oleh pemerintah, mengakibatkan penerapan peraturan keselamatan kerja yang masih jauh dari optimal, yang pada akhirnya menyebabkan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Akibat penegakan hukum yang sangat lemah, King and Hudson (1985) menyatakan bahwa pada proyek konstruksi di negara-negara berkembang, terdapat tiga kali lipat tingkat kematian dibandingkan dengan di negara-negara maju.
Dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi, pekerjaan-pekerjaan yang cukup berbahaya adalah pengelasan. Dalam proses las sendiri tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang.

 sebenarnya banyak bahaya dalam proses ini yang sering tidak disadari oleh pekerja. Diantaranya : 
1)      Gas Dalam Asap Las
            Menurut (Harsono, 1996) sewaktu proses pengelasan berlangsung terdapat gas – gas yang berbahaya yang perlu diperhatikan , yaitu :
  1. Gas karbon monoksida ( CO )
Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin ( Hb ) yang akan menurunkan daya penyerapannya terhadap oksigen .
  1. Karbon dioksida (CO2)
Gas ini sendiri sebenarnya tidak berbahaya terhadap tubuh tetapi bila konsentrasi CO2 terlalu tinggi dapat membahayakan operator terutama bila ruangan tempat pengelasan tertutup.
  1. Gas Nitrogen monoksida (NO)
Gas NO yang masuk ke dalam pernafasan tidak merangsang, tetapi akan bereaksi dengan haemoglobin (Hb) seperti halnya gas CO. Tetapi ikatan antara NO dan Hb jauh lebih kuat daripada CO dan Hb maka gas NO tidak mudah lepas dari haemoglobin, bahkan mengikat oksigen yang dibawa oleh haemoglobin. Hal ini menyebabkab kekurangan oksigen yang dapat membahayakan sistem syaraf.
  1. Gas nitrogen dioksida ( NO2)
Gas ini akan memberikan rangsangan yang kuat terhadap mata dan lapisan pernafasan, bereaksi dengan haemoglobine ( Hb ) yang dapat menyebabkan sakit mata dan batuk–batuk pada operator . Keracunan gas ini apabila dipakai untuk jangka waktu yang lama akan berakibat operator menderita penyakit TBC atau paru–paru .
Gas-gas beracun yang terbentuk karena penguraian dari bahan pembersih dan pelindung terhadap karat .

2.2  Pencegahan Bahaya
Pada proses pengelasan operator harus benar – benar mengetahui dan memahami bahaya – bahaya yang muncul selama proses pengelasan ini berlangsung.  Menurut Harsono, 1996,beberapa macam bahaya pengelasan yang mungkin saja timbul sewaktu proses berlangsung , meliputi :

1.      Bahaya Ledakan.
Bahaya ledakan yang sering terjadi pada proses pengelasan produk yang berbentuk tangki atau bejana bekas tempat penyimpanan bahan – bahan  yang mudah menyala atau terbakar . Pada proses pengelasan / pemotongan ini diperlukan beberapa hal persiapan pendahuluan untuk menghindari bahaya ledakan , seperti :
a)      Pembersihan bejana atau tangki
Sebelum proses pengelasan berlangsung maka   bejana atau tangki perlu dibersihakan dengan :
  • Air untuk bahan yang mudah larut.
  • Uap untuk bahan yang ,mudah menguap.
  • Soda kostik untuk membersihkan minyak , gemuk atau pelumas.
b)      Pengisian bejana atau tangki
Setelah proses pembersihan selesai isilah  tangki atau bejana dengan air sedikit di bawah bagian yang akan dilas/dipotong.
c)      Kondisi tangki sewaktu proses pengelasan
Selama proses pengelasan berlangsung kondisi tangki atau bejana harus dalam keadaan terbuka agar gas yang menguap karena pada proses pemanasan gas dapat keluar.
d)      Penggunaan gas lain
Apabila dalam proses pengisian tangki atau bejana dengan air mengalami kesulitan maka sebagai gantinya dapat digunakan gas CO2 atau gas N2 dengan konsentrasi minimum 50 % dalam udara .
2.      Bahaya Jatuh
Untuk pengerjaan konstruksi bejana, tangki pertamina atau konstruksi bangunan lainnya yang membutuhkan tempat yang tinggi, bahaya yang mungkin dapat terjadi adalah bahaya jatuh atau kejatuhan yang berakibat fatal . Beberapa langkah yang perlu diambil oleh operator untuk  menghindari bahaya ini :
  1. Menggunakan tali pengaman.
  2. Menggunakan topi pengaman untuk mencegah  terjadinya kejatuhan benda – benda atau kena panas matahari

3.      Bahaya Kebakaran
Proses pengelasan selalu berhubungan dengan api sehingga bahaya kebakaran sangat mungkin terjadi mengingat proses ini sangat berhubungan erat dengan api dan gas yang mudah terbakar, untuk itu operator perlu sekali mengambil langkah – langkah pengamanan seperti :
1)      Ruangan atau areal pengelasan harus bebas dari  kain, kertas, kayu, bensin, solar, minyak atau bahan – bahan lain yang mudah terbakar atau meledak harus ditempatkan di tempat khusu yang tidak akan terkena percikan las.
2)      Jauhkan tabung – tabung dan generator dari percikan api las, api gerinda atau panas matahari.
3)      Perbaikan pada sambungan – sambungan pipa atau selang – selang terutama saluran Asetilen.
4)      Penyediaan alat pemadam kebakaran di tempat yang mudah dijangkau seperti bak air, pasir, hidrant .
5)      Kabel yang ada didekat tempat pengelasan diisolasi dari karet ban.

4.      Bahaya Percikan Api / Panas
Bahaya dari percikan api atau panas akan berakibat bahaya kebakaran seperti yang diuraikan diatas , tetapi bahaya lainnya adalah pada operator las sendiri yang terkena luka bakar atau sakit mata . Untuk itu operator selalu dianjurkan menggunakan alat –alat pelindung seperti: sarung tangan, apron, sepatu tahan api, kaca mata las, topeng las

5.      Bahaya Gas dalam Asap Las
Pencegahan atau tindakan yang harus diambil oleh operator untuk menghindari bahaya gas dalam asap las adalah :
1)      Pekerjaan las harus dikerjakan dalam   ruang terbuka atau ruang yang berventilasi agar gas dan debu yang terbentuk segera terbuang.
2)      Apabila ventilasi masih belum cukup memadai maka sebaiknya memakai masker hidung.
3)      Untuk pengerjaan pengelasan dalam tangki perlu tindakan di bawah ini :
·         Menggunakan penghisap gas / debu.
·         Dibutuhkan seorang rekan operator di luar tangki atau bejana yang selalu siaga apabila terjadi bahaya.
·         Voltage lampu penerangan maksimum 12 volt.

6.      Bahaya Sinar
Selama proses pengelasan akan menimbulkan cahaya,  sinar ultra violet dan sinar infra merah yang berbahaya sehingga diperlukan kacamata hitam khusus untuk pekerja pengelasan.
a.   Pelindung mata atau goegle
Pelindung mata tersebut harus mampu menurunkan kekuatan cahaya tampak dan harus dapat menyerap atau melindungi mata dari pancaran sinar ultraviolet dan inframerah. Untuk keperluan ini maka pelindung mata harus mempunyai warna transmisi tertentu, misalnya abu-abu, coklat atau hijau (Harsono, 1996).

Pelindung mata atau goegle yang mempunyai nomor warna dan penggunaan seperti di tunjukkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Nomor warna penggunaan goegle
No.warna
Las busur listrik
Las gas
2,5
-
Untuk cahaya rendah
3
-
Untuk cahaya rendah
4
-
Untuk cahaya rendah
5
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
6
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
7
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat
8
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat

b.      Pelindung muka
Pelindung muka dipakai untuk melindungi seluruh muka terhadap kebakaran kulit sebagai akibat cahaya busur, percikan yang tidak dapat dilindungi dengan hanya memakai pelindung mata saja. Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam dapat berupa helmet dan dapat berupa pelindung yang harus dipegang (Harsono, 1996).
Masalah keselamatan dan kesehatan kerja berdampak ekonomis yang cukup signifikan. Setiap kecelakaan kerja dapat menimbulkan berbagai macam kerugian. Di samping dapat mengakibatkan korban jiwa, biaya-biaya lainnya adalah biaya pengobatan, kompensasi yang harus diberikan kepada pekerja, premi asuransi, dan perbaikan fasilitas kerja. Terdapat biaya-biaya tidak langsung yang merupakan akibat dari suatu kecelakaan kerja yaitu mencakup kerugian waktu kerja (pemberhentian sementara), terganggunya kelancaran pekerjaan (penurunan produktivitas), pengaruh psikologis yang negatif pada pekerja, memburuknya reputasi perusahaan, denda dari pemerintah, serta kemungkinan berkurangnya kesempatan usaha (kehilangan pelanggan pengguna jasa). Biaya-biaya tidak langsung ini sebenarnya jauh lebih besar dari pada biaya langsung. Berbagai studi menjelaskan bahwa rasio antara biaya tidak langsung dan biaya langsung akibat kecelakaan kerja konstruksi sangat bervariasi dan diperkirakan mencapai 4:1 sampai dengan bahkan 17:1 (The Business Roundtable, 1991).
7.      Proses Pengamatan dari Bengkel Las  Cahaya Abadi
Bengkel Cahaya Abadi adalah sebuah bengkel las yang terletak di kawasan Peukan Bada Aceh Besar, mempekerjakan 5 orang pekerja dengan memproduksi  seperti pagar besi, pengaman jendela besi, pengaman pintu, serta kebutuhan-kebutuhan yang berbahan besi lainnya.


BAB III
ANALISA HYGIENE INDUSTRI

3.1      Beban Tambahan
            Beban tambahan yang dialami oleh pekerja pada bengkel Cahaya Abadi meliputi 5 faktor, yaitu :
a)      Faktor Fisik meliputi :
1.   Suhu: dimana atap tempat kerja terbuat dari seng, sehingga disaat siang hari, suhu ruang meningkat.
b)      Faktor Kimia meliputi :
1.    Debu: di lingkungan tersebut cukup banyak terdapat debu atau partikel-partikel yang sangat kecil, sehingga disaat angin berhembus, partikel partikel tersebut berterbangan dan mengakibatkan para pekerja menjadi terganggu, serta produktivitas menjadi menurun.
2.   Asap atau Gas: pada saat pengelasan berlangsung asap yang timbul tidak begitu banyak begitu juga debgan Gas. Namun asap tersebut sangatlah berbahaya karena bias mengakibatkan gangguan fungsi paru. Seperti batuk-batuk, gangguan pernafasan, dsbg.
c)      Biologi meliputi:
1.   Hewan: terkadang adanya semut merah pada lantai tempat pengelasan karena lantainya sudah banyak yang rusak dan berlubang sehingga pekerja menjadi terusik.
d)      Faktor Fisiologis meliputi:
1.   Sikap kerja: Pada saat melakukan pengelasan, terkadang para pekerja mengelas dengan cara berjongkok, hal ini selain dapat menimbulkan penyakit namun juga dapat mengakibatkan kelelahan kerja.
2.   Konstruksi mesin: Kebisingan akibat suara mesin dapat mengganggu konsentrasi pekerja dan menyebabkan gangguan pada pndengaran.
e)      Mental Psykologis meliputi:
1.   Pemilihan Kerja : pekerja mengaku jenuh pada saat melakukan pengelasan pada rancangan yang agak rumit.

3.2        Produktifitas Kerja
            Hasil produksi  Bengkel Las Cahaya abadi perhari tergantung pada banyaknya permintaan dan pesanan dari konsumen.
2.   Tenaga kerja                           : 5 orang.
3.   Produksi perhari         : 4 unit pengaman pintu.
4.   Alat-alat                                  : - 1 unit mesin pemotong besi
5.2 unit mesin las
6.2 unit mesin gerenda
7.1 unit cat semprot dengan menggunakan compressor.
8.   Total jam kerja           : 8 jam/hari. Mulai dari jam 09:00 s/d 18:00 wib.
9.   Istirahat                       : Jam 12:00 s/d jam 13:00 (makan siang dan sholat)



BAB IV
PENUTUP
4.1   Kesimpulan
Dari uraian mengenai berbagai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada penyelenggaraan konstruksi di Indonesia, dapat diambil kesimpulan bahwa berbagai masalah dan tantangan yang timbul tersebut berakar dari rendahnya taraf kualitas hidup sebagian besar masyarakat. Dari sekitar 4.5 juta pekerja konstruksi Indonesia, lebih dari 50% di antaranya hanya mengenyam pendidikan maksimal sampai dengan tingkat Sekolah Dasar. Mereka adalah tenaga kerja lepas harian yang tidak meniti karir ketrampilan di bidang konstruksi, namun sebagian besar adalah para tenaga kerja dengan ketrampilan seadanya dan masuk ke dunia jasa konstruksi akibat dari keterbatasan pilihan hidup. Sehingga perlu pembinaan lebih lanjut mengenai kesehatan dan keselamatan kerja.

4.2   Saran
Baiknya pemerintah melakukan pengamatan  serta memberikan Pembinaan terhadap pekerja-pekerja las untuk lebih memperhatikan kesehatan dan lingkungan sekitar pada saat pengelasan supaya tidak terjadinya penyakit akibat kerja ( PAK ), Dengan selalu memakai Alat Pelindung Diri ( APD ) pada saat bekerja, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

0 komentar:

Posting Komentar

Berbagi klik disini

Twitter Facebook Digg

 

Assalamualaikum Syehdara

Silahkan Join jika ingin berbagi pengetahuan

Untuk sementara forum belum tersedia

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!