Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik Pemerintah
Indonesia yang tidak melakukan tindakan nyata terhadap tragedi yang menimpa
Muslim Rohingya di Myanmar
Desakan MUI kepada Pemerintah
Indonesia kembali disuarakan saat acara pemberangkatan tim pertama Simpaty of
Solidarity (SOS) Rohingya yang telah memperoleh izin masuk ke Bangladesh.
Dr. Amirsyah mengatakan, tiga hal
yang seharusnya dilakukan Pemerintah Indonesia. Pertama, melakukan diplomasi
dengan lembaga-lembaga dunia. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk tertinggi
di dunia, yakni masuk tiga besar dunia. Seharusnya, prestasi ini menjadikan
langkah-langkah Indonesia diperhatikan dan didengar dunia,” kata Dr. Amirsyah.
Amirsyah juga menyatakan
keheranannya, mengapa pemerintah tidak memanfaatkan posisi Indonesia sebagai
Sekjen ASEAN untuk memberikan pengaruh kebaikan bagi perdamaian di kawasan
ASEAN.
Yang kedua, Pemerintah semestinya
memberikan bantuan konkret untuk Rohingya. “IMF saja diberi bantuan sampai nyaris
satu triliun, mengapa Rohingya tidak. Padahal bantuan yang diberikan, digunakan
untuk menyelamatkan masyarakat Eropa yang mengalami krisis ekonomi. Sedangkan
rakyat Rohingya, jauh lebih parah nasibnya,” gugat Amirsyah.
Ketiga, “Dan ini selemah-lemahnya iman, kita terima
pencari suaka dari Rohingya. Indonesia negara besar, pasti mampu membantu
mereka. Sediakan saja sebuah pulau, mereka yang terlepas dari ancaman dan
penderitaan, akan sangat bersyukur dan pasti bisa bekerja keras memulihkan
kehidupannya. Pada saatnya, kehadiran mereka akan punya nilai kontribusi bagi
negeri ini,” kata Amir.
Sebelum menutup sambutannya dengan
nasihat dan doa, Amirsyah menegaskan,”Langkah konkret seperti ACT ini,
seharusnya sudah saatnya menjadi langkah pemerintah. Sebagai negara besar,
tidak ada alasan untuk tidak memperlihatkan kepemimpinan kita di tengah kondisi
krisis kemanusiaan seperti ini,” ujarnya.
seperti diungkap Dr Amirsyah di
atas, satu milyar dolar bisa untuk IMF–yang katanya untuk membantu krisis
ekonomi Eropa (hebat bisa bantu Eropa yang hidupnya jauh lebih nyaman)–tapi nol
alias sepeser pun tak ada buat Rohingya yang lebih membutuhkan uluran
tangan, yang dibantai, terusir dan kelaparan. Jangankan memberi bantuan,
bersuara sebagai tanda simpati pun sampai hari ini tak ada! Sungguh, sangat
terlalu!
(salam-online)













0 komentar:
Posting Komentar