Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

Di tanya dalam bahasa Inggris, SBY kebingungan menjawab

Lawatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke New York, Amerika Serikat, pekan ini tampak berjalan mulus, meski resolusi antipenodaan agama yang diusulkannya tidak begitu mendapat sambutan meriah di panggung internasional.

Tetapi semua itu buyar ketika terjadi insiden memalukan yang terjadi dalam konfrensi pers, Rabu (26/9) silam.

Seperti yang dilaporkan The Jakarta Post, insiden dimulai ketika digelar konfrensi pers untuk membahas Panel Tingkat Tinggi Setjen PBB tentang Agenda Pembangunan Pasca-2015. Dalam konfrensi pers itu hadir SBY, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf, dan Perdana Menteri Inggris David Cameron, ketiganya adalah pimpinan panel tersebut.
Perhatian mulai tertuju ke SBY ketika seorang wartawan radio Eropa bertanya ke pada SBY, dalam bahasa Inggris, tentang usulan resolusi antipenodaan agama. Alih-alih menjawab, SBY yang dalam pertemuan resmi di Tanah Air pun gemar menggunakan istilah berbahasa Inggris, justru terdiam.

SBY terdiam cukup lama. Seperti yang digambarkan The Jakarta Post, ia sempat menaikan alis matanya, menoleh seperti sedang mencari penerjemah.
Ketika reporter itu kembali mengulang pertanyaannya, setelah sekian lama hening, SBY menoleh ke arah Sirleaf dan Cameron, tetapi keduanya tidak berusaha membantu sang presiden.

SBY akhirnya diselamatkan oleh penerjemahnya menerobos keramaian wartawan dan petugas keamanan untuk membantu sang Presiden. Sebenarnya banyak pejabat Indonesia yang hadir dalam konfrensi pers itu. Salah satunya adalah Hasan Kleib, Direktur Jenderal Multilateral, Kementerian Luar Negeri, yang berada paling dekat dengan podium, tetapi bukan dia yang membantu SBY malah sang penerjemah yang akhirnya berani naik ke panggung.

Setelah dibantu, SBY baru bisa menjawab pertanyaan itu, meski dia menolak membahas pertanyaan karena menurutnya tidak sesuai dengan topik diskusi itu.
Setelah perisitiwa itu sejumlah jurnalis asing membuat lelucon. Seorang reporter mengatakan “Orang Indonesia memang membingungkan,” yang disambut oleh tawa oleh rekan-rekannya yang lain. (Islampos/Jak-post)

Selasa, 25 September 2012

Salah pasang foto terduga teroris,TV One di laporkan ke KPI

Pelanggaran kode etik media televisi kembali terjadi. Kali ini TV One resmi diadukan Indonesia Media Watch (IMW) kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lantaran kesalahan pemasangan DR. Muhammad Arifin Badri, da’i salafi,  sebagai terduga teroris dalam acara kabar petang TV-One Senin (24/09) pkl. 18.30 WIB.


“TV-One dengan sengaja telah menyiarkan foto DR. Muhammad Arifin Badri, MA sebagai orang lain (Baderi) dan memasukkannya kedalam jaringan teroris Thoriq (bukti terlampir),” tandas IMW seperti dilansir dalam situsnya indonesiamediawatch.org.

IMW berpandangan pemajangan foto Pembina KPMI (Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia) sebagai teduga teroris adalah sebuah pelanggaran berat.

“TV-One telah melanggar semua isi dari UU No.32/2002 pasal 36; ayat (5) huruf a. Isi siaran dilarang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong,” sambung mereka.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA merupakan da’i lulusan S3 Universitas Islam Madinah, merupakan warga negara Indonesia yang menjadi panutan umat beragama di Indonesia karena aktifitas dakwahnya selama ini.

“Maka IMW menilai perlu memasukan pelanggaran pada si UU No.32/2002 pasal 36; Ayat (6) Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional,” tandasnya.

IMW pun menyayangkan sikap TV-One yang melakukan koreksi namun tidak melakukan permohonan maaf dan penjelasan secara komprehensif kepada publik atas kesalahan yang telah dilakukan dalam siaran sebelumnya. “Padahal siaran yang dilakukan TV-One sebelumnya telah merusak nama baik dan berpotensi menghilangkan nyawa DR. Muhammad Arifin Badri, MA dan keluarga. (bukti terlampir),” tutupnya.

Seperti dilansir moslemsunnah.wordpress, bahwa setelah banyak protes ditujukan kepada TV One terkait pemberitaan DR. Muhammad Arifin Badri yang dituduh terlibat jaringan teroris, maka TV One telah melakukan klarifikasi Selasa 25/9/2012, sekitar pukul 17. 50 WIB. Dalam klarifikasi itu disebutkan bahwa DR. Muhammad Arifin Badri bukan terduga teroris bernama Baderi yang telah ditangkap Densus 88. (islampos/kipasbis)

Rabu, 19 September 2012

Hanya untuk UANG, BNPT,DENSUS 88 dan BIN fitnah umat ISLAM

Waspadalah dengan opini pemberitaan  terkait  terorisme yang  dimainkan oleh media selama ini. Seringkali publik disesatkan oleh berbagai opini dan kampanye hitam atas agenda war on terorism yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui BNPT dan Densus 88.  Ujung-ujungnya Islam dan para pengemban dakwahnya  menjadi korban kambing hitam.

Sehingga membuat mantan Dansatgas Intelijen BAIS pak Mulyo Wibisono terpanggil untuk membeberkan  fakta yang ada sebenarnya. Diungkap oleh beliau  secara ringkas bahwasannya isu teror dan terorisme tersebut masih merupakan SKENARIO dari intelejen itu sendiri (baca : Densus 88, BIN, BNPT) yang memiliki banyak kepentingan.

Semoga masyarakat kita semakin jeli menanggapi hal- hal  yang terkait dengan teroris yang selalu mengaitkan dengan kelompok agama. Sebab dibalik teror ada pihak-pihak luar yang berkepentingan untuk menghancurkan dan mendeskreditkan agama Islam di Indonesia.

Sebelumnya Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono kepada itoday (6/9/2012), menjelaskan bahwakemunculan terorisme itu upaya untuk memberikan stigma negatif terhadap Islam. "Ini bagian dari perang global dan Indonesia ikut dalam perang global itu, dan memberikan stigma teroris terhadap Islam. Kalau kita lihat berita teroris langsung disebut alumni pesantren tertentu, selanjutnya ada sertifikasi ulama, terus ada apalagi, ya ujung-ujungnya stigma negatif terhadap Islam," pungkasnya.

Bahkan “Teroris itu sengaja dipelihara institusi tertentu yang mempunyai kemampuan intelijen. Institusi ini mendapatkan keuntungan dengan adanya teroris karena mendapatkan kucuran dana dari AS,” kata Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono kepada itoday (6/9/2012) [suara-media]

link video



Minggu, 16 September 2012

Kerap bertindak brutal densus 88 akan di laporkan ke komnas HAM

KIPASBIS-news of Islam | Korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Densus 88 akan melapor ke Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada hari Senin (17/09/2012). Kegiatan ini terkait untuk melaporkan  Densus 88 saat menangani penangkapan terorisme. Faktanya menurut Komisioner Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saharudin Daming banyak hal berlebihan dari Densus 88 ketika menuduh orang ‘teroris’.

Menurut Saharudin, kasus penangkapan Firman di perumahan Anyelir Depok. Saat itu tim Densus 88 bahkan menggeledah sampai ke rumah-rumah tetangga. Bukan hanya itu, Densus 88 juga dinilai memukuli seenaknya orang-orang yang dianggap “teroris”, bahkan melakukan penembakan ke rumah-rumah tetangga saat kasus Firman tersebut.

“Sampai ada bayi yang shock, karena suara tembak-menembak yang terlalu berlebihan padahal warga sudah meminta dihentikan,” jelasnya kepada hidayatullah.com saat seminar mengenai Muslim Rohingya di Universitas Al Azhar, Sabtu (15/09/2012).


Ia juga menambahkan fakta Densus 88 yang main asal tembak,juga terjadi mulai dari kasus Temanggung saat menggerebek tersangka ‘teroris’ Ibrahim hingga penggerebekan Nurdin M Top. Penggerebekan Nurdin M Top sendiri sampai mencederai Putri Munawaroh yang hanya seorang perempuan tidak bersenjata.
Anggota Komnas  HAM Saharudin Daming bahkan menegaskan agar masyarakat yang menjadi korban Densus 88 silahkan mengadu ke Komnas HAM. Saharudin mengkritik sikap Densus 88 yang memberikan kerugian pada masyarakat sipil.

“Kalau perlu kita buat Densus Watch untuk mengkontrol mereka,” tambah Daming.
Rencananya para pelapor dari keluarga korban  Densus 88 tersebut akan dikawal oleh Tim Pengacara Muslim (TPM) yang terdiri dari Mahendradatta, Ahmad Mihdan hingga Forum Umat Islam (FUI). Mereka direncanakan hadir pada pukul 10.00 WIB pada hari Senin besok.[hidayatullah]

Sabtu, 15 September 2012

Metro TV tuduh Rohis (Rohaniwan Islam) sumber perekrutan bibit teroris

KIPASBIS - News of Islam |Info grafik yang ditayangkan Metro TV beberapa hari lalu tentang bibit terorisme di sekolah dan menyebar di dunia maya sejak 14 September menimbulkan polemik. Para aktivis Rohis atau Rohaniwan Islam yang secara tidak langsung dituduh sebagai sumber perekrutan teroris muda menyatakan bahwa info yang disampaikan metro TV tersebut adalah fitnah.
>
Metro TV menyebutkan bahwa pola rekrutmen teroris muda ada 5 yakni:
  1. Sasarannya siswa SMP akhir-SMA dari sekolah-sekolah umum.
  2. Masuk melalui program ekstra kurikuler di masjid-masjid sekolah.
  3. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudian diajak diskusi di luar sekolah.
  4. Dijejali berbagai kondisi sosisl yang buruk, penguasa korup, keadilan tidak seimbang.
  5. Dijejali dengan doktrin bahwa penguasa adalah thaghut/kafir/musuh.
Poin-poin tersebut menjurus kepada aktivitas dakwah sekolah yang biasanya dimotori oleh Rohis Sekolah.
Protes terhadap Metro TV di Twitter pun datang bertubi-tubi karena kebanyakan aktivis dakwah muda merupakan jebolan Rohis. Menanggapi protes tersebut, Metro TV hanya menjawab secara diplomatis, "Metro TV tidak pernah memberitakan bahwa rohis adalah sarang teroris."
Pihak Metro TV juga mengatakan bahwa data yang ditampilkan dalam info grafik tersebut merupakan data pihak lain.
"Info grafik Metro TV 5 Sept lalu soal pola rekrutmen teroris bersumber dr penelitian ilmiah Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Bambang Pranowo," tulis akun Twitter Metro TV.
Ustadz Akmal Sjafril, aktifis dakwah yang concern dalam bidang Ghazwul Fikr menyatakan bahwa tudingan seperti itu adalah hal wajar.
"Nasib para ulama, kyai, santri, dan mujahid memang selalu begitu. Indonesia tidak mungkin merdeka tanpa mereka. Mereka ini tidak perlu diajari nasionalisme, tidak perlu diajari Pancasila, tapi kalau penjajah datang, langsung siap berjihad. Setelah Indonesia merdeka pun pengakuan kedaulatan datang dari para ulama dan mujahid di Timur Tengah. Tapi setelah kondisi stabil, selalu saja orang sekuler yang sok-sokan, seolah-olah mereka paling berjasa pada negeri ini," katanya.
Ia menganggap bahwa tudingan bahwa Rohis adalah sarang teroris merupakan modus rezim terdahulu yang diikuti oleh media massa sekuler sekarang.
"Di era Orde Lama, politik Islam diberangus. Di era Orde Baru, intel disusupkan di mana-mana, mau pengajian saja susah, mau khutbah saja mesti laporan. Sekarang, Rohis dituduh teroris pula. Ada Rohis saja kondisi pemuda bangsa ini sudah awut-awutan. Mau jadi apa bangsa ini kalau tidak ada Rohis?"
Somasi ke Metro TV
Sementara itu, vokalis grup nasyid haraki, Afwan Riyadi, menyatakan akan melakukan somasi terhadap pemberitaan Metro TV tersebut.
"Insya Allah, semoga di mudahkan Allah. Senin besok saya akan mengajukan somasi kepada Metro TV atas tayangan Info Grafik mereka yang memfitnah ekstrakurikuler di masjid-masjid SMP/SMA umum sebagai pintu masuk teroris," katanya.
Ia mengatakan bahwa Rohis-phobia akan menghambat gerakan dakwah yang berujung pada rusaknya generasi muda.
"Tayangan ini bisa menciptakan ROHIS Phobia di kalangan sekolah maupun orang tua siswa. Ujungnya, dakwah Islam di kalangan remaja Islam menjadi semakin sulit. Apa jadinya generasi kita mendatang?" katanya retoris.[fimadani/arr/kipasbis]

Kamis, 13 September 2012

Hanung Bramantyo akan rilis film bercerita santri homoseksual

ISLAM WARRIOR | Hanung bramantyo, Sutradara Film kembali membuat kontroversi, setelah sebelumnya film yang berjudul "?" yang mendapat kritikan dari umat muslim Indonesia atas karya nya tersebut, sekarang hanung kembali membuat film yang melecehkan Islam, film berjudul "cinta terlarang Batman dan Robin" yang bertemakan Homoseksual dengan latar belakang Pesantren.
Hanung dalam Film " ? "
"Sejak awal sikap FPI sangat jelas, tolak film-film yang menghina Islam, dan film karya Hanung bertemakan gay itu sudah melecehkan Islam. Dalam syariat Islam, gay, lesbi itu sudah dilarang, ini justru disebarkan dengan film," kata Ketua Bidang Dakwah dan Hubungan Lintas Agama DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhsin Ahmad Alatas seperti dikutip itoday, Kamis (13/9/2012).

Film karya hanung ini menceritakan tentang cinta sejenis dari santri yaitu Amir dan Bambang di pesantren.

"Ini sudah pelecehan terhadap Islam. Hanung bisa diseret ke pengadilan, agar tidak mengulangi lagi perbuatannya yang melecehkan Islam," ungkapnya.

Menurut habib hanung bisa saja di laporkan ke pihak yang berwajib di karenakan penistaan terhadap agama. Ia mengatakan bahwa penyebaran pemikiran liberal pasti ada intervensi dari pihak asing, terutama dengan film maupun diskusi.

"Pihak asing itu berkeinginan menghancurkan bangsa Indonesia dengan menyebarkan paham liberal, termasuk mendanai film-film seperti karya Hanung," pungkasnya.

Film ini akan rilis pada bulan oktober 2012, bertujuan untuk menyambut hari anti diskriminasi nasional.

Untuk Sby akan di belikan tenda VIP seharga 15 milyar??

KIPASBIS | Kabar itu datang dari wakil rakyat di Senayan. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengungkapkan jika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berencana membeli tenda VIP seharga Rp 15 miliar. Tenda tersebut rencananya akan dipergunakan oleh presiden saat berkunjung ke lokasi bencana.
"Saya dapat informasi kalau pemerintah (BNPB) mengajukan pembelian tenda VIP untuk presiden, 1 tenda seharga Rp 15 miliar, perlu dicek ke komisi 8," ujar Hasanuddin melalui pesan singkatnya, Selasa (11/9).

Informasi ini tentunya menjadi tanda tanya besar. Tenda seperti apakah yang dibutuhkan untuk seorang presiden untuk hadir di lokasi bencana. Dengan harga Rp 15 miliar, Hasanuddin bahkan menyebut, uang itu bisa dibelikan sebuah rumah di kawasan elite Menteng.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Jazuli Juwaini membenarkan adanya permintaan tersebut. "Itu terkait dengan usulan realokasi anggaran BNPB. Adapun harga ditentukan oleh pasar dan melalui mekanisme sesuai peraturan perundang-undangan," ujarnya.

Anehnya, BNPB yang jadi mitra kerja Komisi VIII DPR tidak dapat menjelaskan spesifikasi teknis tenda tersebut. Seperti diungkapkan anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Gerindra Sumarjati Arjoso.

Permintaan anggaran itu diajukan pada realokasi anggaran BNPB dalam APBNP tahun 2012. "Itu realokasi anggaran 2012, bukan anggaran 2013," jelasnya.

Yang membuat dia heran adalah, awalnya BNPB mengajukan anggaran Rp 15 miliar. Tapi saat Komisi VIII mempertanyakan seperti apa bentuk tenda itu, tidak ada penjelasan yang didapatkan. Malah kemudian, pengajuan pengadaan tenda itu diubah tanpa mencantumkan harga.

Politisi Gerindra ini mengaku tidak tahu awalnya kenapa BNPB mengajukan anggaran untuk pembelian tenda tersebut. "Saya tidak tahu awalnya, soal harga dan tendanya seperti apa," tandasnya.

Sementara Ketua Kelompok Fraksi Partai Demokrat di Komisi VIII Muhammad Baghowi mengatakan, rencana pembelian tenda itu tanpa sepengetahuan Presiden SBY.

"Presiden tidak meminta untuk itu. Ya nggak mungkin atas sepengetahuan presiden, mungkin atas inisiatif BNPB," tegasnya.

Jika memang rencana pembelian tenda itu ada, Baghowi mengatakan mungkin tenda itu bukan khusus dibeli untuk presiden. Tetapi dipergunakan oleh warga yang sakit, sebab daerah bencana rawan dengan virus penyakit.

"Jangan dianggap itu tendanya untuk presiden, pada saat ada yang sakit perlu ada yang steril," tukasnya.

Soal penggunaan tenda ini, Baghowi didukung anggota Komisi VIII dari Fraksi PPP Hasrul Azwar. Tenda VIP itu tidak hanya ditujukan untuk presiden, tapi juga untuk pejabat dan tamu dari luar negeri yang berkunjung ke lokasi bencana. 

"Bukan, tenda ini bukan hanya untuk Presiden, tapi juga dapat digunakan oleh pejabat dan tamu asing yang berkunjung," kata Ketua Fraksi PPP ini.

"Jika sewaktu-waktu ada orang dari luar negeri yang datang melihat, meninjau seperti di Aceh, banyak bangunan runtuh, di mana para tamu ini akan menginap?" ujarnya.

Sedangkan Ketua DPR Marzuki Alie menegaskan, pembelian tenda VIP sebetulnya tidak diperlukan. "Saya kira lebih baik dana itu untuk bencana alam," tegasnya. 

Terkait polemik ini, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengaku tidak tahu-menahu. Dia menyatakan soal urusan anggaran dan alokasi pengadaan barang menjadi bagian dari tugas Sekretaris Utama (Sestama) BNPB Fathul Hadi. "Soal anggaran, saya tidak tahu dan tidak ikut saat rapat dengan DPR," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com.

Sementara ketika merdeka.com berupaya menghubungi Sestama BNPB Fathul Hadi untuk mengkonfirmasi, SMS yang dikirimkan tidak dibalas. Demikian juga telepon tidak diangkat meski terdengar nada sambung dari ujung telepon.[merdeka]

Senin, 10 September 2012

Kesengajaan kah? Gambar yesus di temukan di buku panduan haji

KIPASBIS | Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu menemukan gambar Yesus pada buku panduan haji. Gambar tersebut dijumpai saat sejumlah calon haji hendak melakukan manasik.
Ilustrasi
"Di buku panduan haji ada gambarnya Yesus sedang menggembala domba," kata Yusrati, salah seorang peserta Menasik, Senin, 10 September 2012. Dia menduga ada unsur kesengajaan gambar tersebut ada di buku panduan haji. "Tidak mungkin gambar ini muncul tiba-tiba," ujarnya.

Yusrati menjelaskan, buku panduan haji itu semestinya hanya berisi doa, zikir, dan tanya jawab manasik haji dan umrah. Namun ada satu halaman yang dilampiri foto Yesus. Di situ, Yesus digambarkan dalam posisi sedang mengembala seekor domba. Di bawah gambar tersebut tertulis "Yesus dan gembala yang baik".

Terkait gambar tersebut, Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Bengkulu, Efendi Joni, mengatakan buku panduan tersebut didapat dari Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama Republik Indonesia.

 "Buku itu akan kami kembalikan ke direktorat supaya diusut," kata Efendi. Dia mengaku khawatir adanya gambar tersebut akan menimbulkan konflik antar-agama. 

Setelah mengecek 280 buku panduan haji yang telah dibagikan kepada calon jemaah haji, petugas kementerian agama, menurut Efendi, pihaknya hanya menemukan satu buku panduan yang memuat gambar tersebut. [tempo]

Ada upaya sistematis (pemerintah) untuk identikan Islam dengan Teroris

KIPASBIS | Anggota Fraksi PKS DPR, Indra, mengatakan, ada upaya sistematis yang terus- menerus mengidentikkan terorisme dengan Islam, pesantren, aktivis Islam, dan simbol-simbol keislamanan lainnya. 



"Padahal tindakan terorisme, sebagai bentuk tindakan teror bisa dilakukan siapa saja dan agama apapun," kata Indra, di Jakarta, Senin (10/09/2012). 
Anggota Fraksi PKS DPR, Indra
Menurut dia, fakta yang ada, tindakan teror berupa penembakan dan pembunuhan atas warga sipil dan aparat kepolisian/militer yang terjadi di Papua, tidak disebut sebagai tindakan teroris, atau teror yang dilakukan RMS di Maluku juga tidak disebut sebagai teroris, dan sebagainya.
"Jadi jika sampai saat ini tindakan teror masih terus terjadi, jangan lantas pemerintah bersikap kalap dengan menyalahkan dan menyudutkan ulama atau agama Islam," katanya.

Harus dipahami dan diingat terorisme tidak mengakar pada budaya Islam. "Islam adalah agama kasih sayang yang rahmatalil alamin," kata anggota DPR ini, dilansir Antara.

Indra juga menyebutkan, apabila penanggulangan terorisme masih berorientasi "proyek dana asing" dan terus menyudutkan serta mengkambinghitamkan umat Islam, maka terorisme tidak akan hilang di bumi pertiwi ini.

"Sangat mungkin kebijakan pemerintah melalui BNPT dan Densus 88 justru membuat 'semakin marak' tindakan terorisme," kata Indra. Dia berharap pemerintah harus jujur dalam mengungkap dan menganalisa sumber serta latar belakang tindakan terorisme.*[Hidayatullah]

Bongkar, dugaan proyek "terorisme" buatan BNPT

KIPASBIS | Sebelum terjadinya "teror" Solo, telah terjadi pertemuan secara tertutup di markas Kopassus Kartosuro antara Direktur Penindakan BNPT, Brigjen (Pol) Petrus R Golose dengan jajaran Dandim, Komandan Kopassus Grup 2, Kapolres se-Solo Raya dan dan perwakilan dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
"Saya baca di media, tiga bulan sekitar bulan Juni sebelum ada 'teror' Solo, ada pertemuan petinggi BNPT dengan pejabat militer dan polisi seluruh Jawa Tengah di markas Kopassus Kartosuro yang katanya membahas penanggulangan antiteror. Apa gunanya pertemuan itu kok tiba-tiba ada 'teror'," kata mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI Purn Mulyo Wibisono kepada itoday, Sabtu (8/9/2012).
Untuk diketahui, pertemuan di markas Kopassus Kartosuro yang dimaksud Mulyo terjadi pada Kamis, 21 Juni 2012.
Menurut Mulyo, pertemuan itu seharusnya sudah mengetahui jaringan "teroris", termasuk yang terbaru dan dapat mengantisipasi adanya "teror", terlebih lagi di Solo.
"Pertemuan BNPT di Kartosuro masih wilayah Solo yang katanya sumber "teroris", masih juga kecolongan. Saya minta pertemuan itu dibongkar saja, apa sih isinya, biar masyarakat tahu dan tidak curiga sepak terjang BNPT dan Densus," ungkap Mulyo.
Mulyo mencurigai kemunculan "teroris" Solo kemungkinan rekayasa pihak BNPT untuk mendapatkan kucuran dana. "Kemunculan 'teroris' itu menguntungkan polisi dan BNPT. Mereka mendapatkan keuntungan dari proyek 'teroris'," jelasnya.
Ia juga mengatakan, dalam menjalankan "proyek terorisme" itu, pihak BNPT bisa juga melakukan operasi intelijen dengan menyusup kepada orang-orang yang ingin melakukan "teror".
"Memunculkan 'teror' itu biasa dalam operasi intelijen agar orang-orang yang diduga 'teroris' itu muncul. Dan dengan munculnya 'teroris' akan memberikan keuntungan bagi polisi dan BNPT," pungkasnya.[Arr]

Minggu, 09 September 2012

Ulama semakin terpojok oleh ulah pemerintah dengan sahabat Yahudi nya

KIPASBIS | Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menentang keras usulan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk dilakukannya sertifikasi pemuka agama, sebagai salah satu langkah menekan aksi teror. Gelar kiai atau ustadz ditegaskan bukan pemberian Pemerintah, sehingga tidak dibutuhkan langkah sertifikasi untuk melihat nasionalisme penyandangnya.
 
"Panggilan kiai atau ustadz itu yang menyebutkan masyarakat, bukan pemberian dari Pemerintah. Pemerintah terlalu jauh kalau ngurusi hal-hal seperti ini," tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, Ahad (9/9).
 
Said Aqil lantas menganalogikan pernyatannya pada perintah menjalankan shalat, yang tidak perlu diatur dan diawasi secara langsung oleh pemerintah. Ada elemen masyarakat yang memiliki kewajiban menjalankan tugas tersebut, dengan Pemerintah berada pada posisi memberikan dukungan.
 
Terkait tudingan gagalnya deradikalisasi oleh pemuka agama, ditambahkan oleh Kiai Said, dinilai bukan semata-mata karena rendahnya peran ulama. Kondisi yang ada saat ini diminta menjadi bahan intropeksi, baik oleh kalangan ulama, BNPT selaku institusi resmi, maupun seluruh elemen masyarakat.
 
"Yang perlu diingat terorisme tidak mengakar pada budaya Islam. Jadi kalau aksi teror sampai sekarang masih ada, itu tidak semata-mata karena peran ulama yang kurang dalam deradikalisasi agama," tambah Kiai Said.
 
Kiai Said juga meminta BNPT tidak meragukan peran ulama dalam menjalankan deradikalisasi, terutama dari kelompok Organisasi Kemasyarakatan yang berdiri jauh sebelum kemerdekaan Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah.[republika]

Jumat, 07 September 2012

Inikah HAM?? seorang aktifis Homoseksual lolos seleksi jadi anggota komnas Ham untuk kampanye legalitas Homoseksual di Indonesia

KIPASBIS | Panitia Seleksi (Pansel) Pemilihan Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) berhasil menyeleksi 30 nama calon anggota Komnas HAM periode 2012-2017 dari ratusan pendaftar yang masuk.

Rencananya, pada pertengahan September ini, 30 nama yang diajukan ke DPR, akan menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper-test). Adalah Komisi III DPR-RI yang akan melakukan fit & proper-test ini.
Dari 30 nama tersebut, DPR akan memilih 15 nama yang layak dijadikan sebagai anggota Komnas HAM. Posisi anggota Komnas HAM sangat penting, sehingga banyak kelompok kepentingan yang berusaha menempatkan wakilnya di sana.

Dari 30 nama tersebut, satu di antaranya adalah Dede Oetomo, Ph.D, tokoh kaum homoseksual di Indonesia yang gencar mengampanyekan hak-hak bejat kaumnya.

Dede Oetomo
Dede yang juga dikenal sebagai dosen Universitas Airlangga, Surabaya, adalah aktivis dan pendiri LSM Gaya Nusantara, sebuah LSM tempat berkumpulnya para homo, banci, dan lesbi. Kiprah Dede di dunia internasional diganjar Felipa de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Right Commission pada 1998.
Kini, LSM Gaya Nusantara yang dikelola Dede dan kawan-kawan semakin berkembang, bahkan memiliki banyak anggota.

Gaya Nusantara yang berpusat di Surabaya juga dikenal di dunia internasional sebagai LSM yang giat mengampanyekan Lesbianisme, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Beberapa waktu lalu, dengan mengatasnamakan kampanye internasional, Isu LGBT semakin santer ketika para pengidap seks menyimpang ini berkolaborasi dengan para aktivis liberal dalam mengampanyekan hak-hak mereka.
Pada 2011 lalu, Gaya Nusantara dan beberapa LSM sekularis, pluralis, liberalis (Sepilis) lainnya melakukan kampanye penolakan Qanun Syariat di Nanggroe Aceh Daarussalam yang melarang lesbianisme (musahaqah) dan homoseksual (liwath). 

Bersama para aktivis liberal, mereka bergerilya ke Departemen Dalam Negeri agar Qanun yang sudah disepakati oleh rakyat Aceh tersebut dibatalkan. Untuk makin menggaungkan hak-haknya, Gaya Nusantara juga bergerilya dari kampus ke kampus, di antaranya dengan mengadakan berbagai seminar terkait isu-isu gender. Di antara seminar itu bekerjasama dengan LSM internasional the Coalition for Sexual and Bodily Right in Muslim Societies (CSBR), diselenggarakan di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Seminar ini melibatkan para pengasong paham kesetaraan gender, antara lain, aktivis liberal Guntur Romli.

Masuknya Dede Oetomo sebagai kandidat anggota Komnas HAM di tengah bangsa yang mayoritas Muslim tentu sangat mengkhawatirkan. Dalam Islam, homoseksual dan lesbianisme adalah haram dan dosa besar. Pelakunya bahkan bisa dihukum mati.

Sungguh memprihatinkan, jika di sebuah bangsa yang mayoritas Muslim, hak-hak para pengidap seks menyimpang itu diakui. Jika aktivis homo masuk sebagai pejabat dalam Komnas HAM, tentu tujuannya adalah membela kepentingan-kepentingan kaum homonya. Selain Dede Oetomo, sebelumnya tokoh waria Yulianus Rotteblaut alias Mami Yulie juga lulus seleksi administrasi. Belakangan, penyaringan yang ketat gagal meloloskan Yulie ke seleksi selanjutnya.

Menanggapi lolosnya Dede Oetomo sebagai calon anggota Komnas HAM, aktivis Taruna Muslim yang juga anggota Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) Alfian Tanjung dengan tegas menyatakan bahwa keberadaan Dede sangat membahayakan bagi umat Islam.

Alfian yang juga pegiat anti komunisme ini mengaitkan Dede sebagai kader PKI. “Saya tekankan bahwa Dede Oetomo itu kader Partai Komunis Indonesia (PKI) golongan A,” ungkapnya. Selain Alfian, sejumlah komponen dan ormas Islam menyesalkan Pansel yang diketuai Jimly Asshiddiqie ini meloloskan kandidat yang secara integritas moral sungguh tak layak. Mereka, utamanya menolak Dede Oetomo sebagai kandidat Komisioner Komnas HAM.

“Mengingat fungsi strategis lembaga ini, Komisioner Komnas HAM harus memiliki kompetensi, dedikasi dan integritas moral yang baik,” ujar Koordinator GUIB Drs H Abdurrachman Azis, Msi seperti dikutip voa-islam.com. Karenanya, GUIB Jatim menyesalkan Panitia Seleksi Komnas HAM meloloskan aktivis yang memiliki orientasi seksual menyimpang.


Untuk membendung lolosnya aktivis gay sebagai pejabat Komnas HAM, masih ada kesempatan bagi umat Islam untuk berkirim surat ke Sekretariat Panitia Seleksi Calon Anggota Komnas HAM di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat. Surat yang ditujukan berisi masukan tentang rekam jejak calon anggota yang akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan.

Jika tak ingin homo dan banci jadi anggota Komnas HAM, bisa mengirimi surat memprotes Panitia Seleksi Komnas HAM! Bagi Anda yang tidak setuju dengan Dede, Anda juga bisa menyampaikan masukan email ke: komisi3@dpr.go.id

“Untuk memenuhi asas keterbukaan dan pertanggungjawaban publik, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia meminta kepada masyarakat luas dengan identitas jelas untuk memberikan masukan terhadap calon-calon Anggota Komnas HAM…,” demikian bunyi pengumuman dari Setjen DPR-RI [salam-online/kipasbis]

baca lain nya :

Barcelona pusat fremansory yahudi

Rencana jahad Yahudi, simbol yahudi terdapat di sajadah
Waspada, media kafir akan sebut imam mahdi teroris
Membongkar kontroversi densus 88




Fakta kasus "terorisme" densus 88 yang selama ini sembunyikan

KIPASBIS | Stempel "Teroris" selalu diidentikkan dengan Islam dengan para aktifisnya. Sedangkan ketika berbagai macam tindak kriminal yang di lakukan oleh penguasa dunia "katanya" seperti Amerika dan antek-antek yahudi laknatullah mereka anggap bak pahlawan yang siap membela yang benar dan membela HAM, bersetan dengan HAM, dengan HAM mereka memporak porandakan Aqidah Islam, HAM hanya untuk orang tinggi, lihat Aceh, Lihat korban korban konflik aceh, Palestina, dan negara Islam lain nya siapa yang bertanggung jawab?? tidak ada!. itulah ulah mereka Amerika dan yahudi nya, dan negara yang mengekor Yahudi maka Yahudi lah negara itu.


 Itulah ketidakadilan yang dilatarbelakangi sifat sebagai "anjing" penjilat pantat negara teroris sejati dengan track record pelanggaran HAM dan amnesti Internasional serta hak sebagai "penguasa bumi" dengan standar gandanya yaitu mana lagi kalau bukan Amerika Serikat yang dikendalikan loby-loby yahudi mencengkeram kuat di gedung putih yang selama ini negara pancasila "Indonesia" mengekor di belakang dan selalu menuruti apa kata tuan nya.negara islam hanya label akan tetapi berlatar belakang tidak lebih dari yahudi, menyengsarakan rakyat yang di lakukan oleh para penguasa negara ini. mempermain kan hak rakyat hanya untuk kepentingan pribadi dan kantong kantong orang yang tidak mempunyai "pri kemanusian dan pri keadilan" katanya dalam pancasila.

kembali lagi pada kasus "terorisme" di solo beberapa waktu lalu. Ketika media sekuler baik TV, Radio, dan Media Cetak, dan elektronik semua bungkam atau sengaja dibungkam dan disuguhi parodi "the hero man" yang dilakonkan oleh Densus 88 Antiteror. Detasemen Khusus dibawah payung POLRI dan didanai oleh negara Teroris Amerika Serikat tersebut, menjadi bak "banteng" melibas segala unsur Islam yang di ada depannya, dari hasil pengamatan  ternyata mereka anggota densus 88 itu memang mayoritas bukan Islam, apa ini permainan atas yang melibatkan banyak orang di luar Islam agar mereka bisa membantai para aktifis Islam yang siap maju melawan ketidak adilan dan kekafiran, kemudian yang dicurigai sebagai buronannya sesuai pesanan Big Boss-nya. Sehingga rekayasa untuk menyukseskan "asal Bapak senang" dengan intrik-intrik di lapangan yang menjijikkan pun sudah bukan menjadi barang langka lagi.

Hal ini dibuktikan dengan kesaksian langsung dari masyarakat yang hidup di lokasi tempat aksi Densus 88 tersebut, yaitu di Jalan Veteran 1, Tipes, Solo. Berikut laporan lengkapnya: 

Info dari Warnet Annisa-net dari Abdul Rouf di ceritakan dari @Walid Irhabna Mahmud terkait kejadian di solo yang selalu di kait2kan dengan Islam dan label "TERORIS" nya Walid Irhabna Mahmud, Berikut isinya:

"Kami tadi ke Solo silaturrahim dengan laskar Salamah Solo (Masjid belakang Lotte mart). Jarak markas laskar dengan lokasi "tembak-menembak" Densus88 hanya 30 meter.Menurut keterangan saksi warga sekitar dan laskar, tidak ada tembak-menembak, yang ada mobil Densusu88 menabrak korban sampai jatuh. Dalam keadaan tertimpa motor,korban diinjak dan ditembak dalam jarak kurang dari satu meter berulang-ulang. Salah satu peluru terpental mengenai perut anggota Densus 88. Dalam keadaan panik, mereka melarikan anggota tsb ke RS tapi maut lebih cepat...Hal yang janggal adalah kenapa tidak dilakukan otopsi terhadap mayat Densus88 agar tahu peluru siapa yang menembus tubuhnya, tapi buru-buru dikuburkan...Keterangan polisi terkait pistol yang dipakai farhan juga simpang siurjenisnya, kadang bilang FN kadang barreta...Kasus penembakan pos dan pelemparan granat yg dilakukan desertir Polri NB tidak pernah diangkat polri dan media. Semua teror diarahkan ke Farhan (19) yg statusnya baru."


baca juga

Kamis, 06 September 2012

ini dia, para anggota DPR kepergok bersantai di denmark dengan uang rakyat 1,2 milyar hanya untuk nyari 1 logo

KIPASBIS | Para anggota Baleg DPR yang melawat ke Denmark untuk studi banding RUU PMI tepergok oleh pembaca detikcom sedang bersantai menyusuri Sungai Copenhagen (Copenhagen Channel), Denmark. Dia pun menjepret momen ini dengan handphone HTC-nya. Jepret, jepret. Ini di antaranya!

Uang rakyat di habiskan dengan rekreasi dengan alasan nyari logo PMI
Sebenarnya ada banyak foto yang dijepret sang pembaca yang memang berdomisili dan bekerja di Denmark itu. Namun, dua foto yang ia kirimkan ke redaksi detikcom sudah lebih cukup menyampaikan arti yang sangat dalam.

Sang pembaca detikcom yang tidak mau disebutkan namanya itu memergoki para anggota dewan itu di kawasan Nyhavn, Copenhagen pada pukul 14.30 waktu setempat, Kamis (6/9/2012). Dia mengabadikan momen saat para anggota dewan berada di atas kapal wisata yang sedang menepi di jalan kecil di kawasan itu.

Foto pertama memperlihatkan para anggota DPR yang sebagian di antaranya kaum perempuan sedang duduk-duduk di atas kapal yang bersandar di pinggir sungai. Juga tampak seorang anggota DPR berbatik biru berjalan di atas kapal mencari tempat duduk.

Sedangkan foto kedua memperlihatkan para anggota DPR yang tampak bercengkerama santai di atas kapal berkursi warna biru itu sambil menikmati indahnya sungai Copenhagen. Beberapa diantara mereka tampak mengenakan kacamata hitam untuk menghindari terik matahari. Di atas kapal itu juga terlihat para wisatawan lain yang bukan warga negara Indonesia.

Ketua Baleg DPR Ignatius Mulyono yang juga berangkat ke Denmark tidak membantah tentang hal ini. Ignatius menduga teman-temannya sedang berada di daerah teluk. Namun, Ignatius tidak ikut acara santai ini.

"Itu daerah teluk mas, saya nggak ke sana," kata Ignatius saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (6/9/2012) malam.[detik/kipasbis]




Rabu, 05 September 2012

Hanya untuk cari satu lambang, anggota DPR habiskan 1,2 milyar anggaran perjalanan ke turki & denmark

KIPASBIS | 22 ANGGOTA Badan Legislatif (Baleg) DPR kembali melakukan perjalanan ke luar negeri, kali ini ke Denmark dan Turki. Tujuannya, mencari lambang palang merah yang nantinya akan digunakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI).

Baleg DPR merasa perlu mengunjungi kedua negara itu karena di dunia saat ini ada dua lambang palang merah. Yakni, palang merah (red cross) dan bulan sabit merah (red crescent). Denmark merupakan negara asal lambang palang merah dan Turki negara asal bulan sabit merah. Kepergian 22 anggota DPR ke kedua negara itu nantinya diharapkan bisa membawa oleh-oleh lambang mana yang akan digunakan PMI.

Adapun anggota Baleg yang ikut dalam studi banding ini berjumlah 20 anggota DPR. Sebanyak 10 anggota Baleg dipimpin oleh Wakil Ketua Baleg Achmad Dimyati Natakusumah (F-PPP) berangkat ke Denmark dan 10 anggota Baleg lainnya dipimpin oleh Wakil Ketua Baleg Anna Mu’awanah (F-PKB) berangkat ke Turki.
Menurut Koordinator Investigasi dan advokasi FITRA Uchok Sky Khadafi, studi banding tersebut menelan biaya Rp1,2 miliar. Secara rinci alokasi anggaran ke Denmark, menurut Uchok menghabiskan alokasi anggaran sebesar Rp666,2 juta untuk 10 anggota DPR.

“Setiap satu anggota dewan akan menghabiskan anggaran sebesar US$6.641 atau sekitar Rp59,8 juta untuk kelas eksekutif, dan untuk satuan biaya harian akan menghabiskan anggaran sebesar US$365 atau sebesar Rp3,2 juta per hari,” jelasnya.
Namun, data yang diperoleh dari Sekretariat Baleg DPR menunjukkan bahwa anggota Baleg yang ikut dalam “plesiran” ke kedua negara di Eropa itu bukan 20 orang, melainkan berjumlah 22 orang. [islampos/kipasbis]

laskar umat islam "Mayoritas densus 88 kafir fanatik"

KIPASBIS | Setelah sempat digegerkan dengan serangkaian aksi teror terhadap anggota kepolisian di kota Surakarta, kota Solo kembali menjadi ajang aksi brutal, teror dan “premanisme”. Kali ini aksi tidak dilakukan oleh kelompok dan aktivis islam yang dituduh sebagi teroris, melainkan aksi brutal tersebut dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Pasalnya, peristiwa baku tembak pada Jum’at malam (31/08/2012) di jalan Veteran, Tipes, Solo berakibat hilangnya nyawa dua orang yang baru “dicurigai” sebagai pelaku terror di Solo tanpa adanya pembuktian melalui meja persidangan.

Selain itu, kebrutalan dan aksi “premanisme” Densus 88 juga tertumpah pada kakek berusia lanjut yang tidak lain adalah mbah Wiji Siswo Suwito, ayah mertua Bayu Setiyono yang juga ditangkap Densus dengan tuduhan terlibat akri terorisme.

Mah Wiji, yang telah tua renta menerima “bogem mentah” dan amukan beberapa hantaman dari petugas Densus 88, sehingga menyisakan luka parah pada bagian wajah dan 4 giginya juga ikut tanggal. Tidak hanya cukup sampai disitu, tanpa surat penangkapan Densus 88 merusak pintu rumah dan tanpa surat penyitaan barang-barang, Densus 88 juga merampas 3 unit handphone dan kendaraan dirumah mbah Wiji.

Terkait aksi brutal tersebut, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dalam audiensinya bersama Kapolresta Solo Kombes Pol. Asdjima’in meyatakan bahwa “pembunuhan” yang dilakukan Densus 88 terhadap 2 orang yang baru diduga sebagai teroris tidak dibenarkan secara hukum. Sebab, menghilangkan nyawa seseorang harus dengan putusan pengadilan.

Pada aksi baku tembak tersebut, fakta yang berhasil di himpun oleh Tim Pencari Fakta (TPF) dari LUIS, saksi melihat tembakan mencapai 20 kali untuk mengeksekusi 2 orang yang baru diduga teroris. Hal ini semakin menambah catatan “pengeksekusian” oleh Densus 88 terhadap terduga terorisme tanpa peradilan sejumlah 56 kali dalam aksinya selama ini.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, ada 2 orang yang juga ditembak mati di Cakung oleh Densus 88 dengan tududhan terlibat pelatihan ‘ala’ militer di Aceh. Tapi, sampai akhirnya jenazah dimakamkan, pihak kepolisian dalam hal ini Densus 88 tidak bisa membuktikan apakah jenazah tersebut benar-benar seorang teroris atau bukan. Bahakan yang lebih “konyol” lagi, Densus 88 tidak mengetahui siapa nama kedua orang yang ditembak tersebut.

Selain itu dari hasil analisa LUIS, tim yang di terjunkan dalam setiap operasi dan sebagian besar anggota Densus 88 adalah non muslim (orang Kafir). Bahkan orang kafir yang fanatik yang kemudian di tugaskan untuk menangkap bahkan mengeksekusi secara langsusng di TKP kelompok teroris yang dicurigai tersebut beragama islam.

LUIS menilai serangkaian aksi yang dilakukan oleh densus 88 tak terkecuali disolo mengundang anti pati dari masyarakat, tokoh agama, maupun kalangan akademisi.

Terkait penangkapan disertai penganiyayan dan pengrusakan pada operasi penanggakap Bayu, LUIS tidak bisa mentolerir aksi brutal Densus 88 yang kemudian merampas kendaraan dan 3 unit HP, lantaran operasi tersebut tanpa surat penangkapan. Ironisnya lagi, penganiayan terhadap mbah Wiji dilakukan di hadapan cucu-cucunya, hal ini tentu akan mengganggu mental anak dan menyisakan trauma.

Melalui release-nya, LUIS menyampaikan kepada Kapolri untuk menindak tegas oknum anggota Densus 88 yang menganiaya mbah Wiji dan merusak sebagian rumahnya. Tak lupa LUIS juga menyampaikan tuntutan untuk mengevaluasi dan meninjau SOP Densus 88 yang sealu memunculkan arogansi dan diskriminasi.

Selain itu, dalam tuntutannya LUIS dengan tegas menyampaikan kepada Kapolri bahwa Densus 88 dalam setiap aksinya agar berpegang pada aturan yang ada, sehingga tidak ada upaya untuk menghilanggan nyawa seseorang untuk kepentingan lain.

Ustadz Yusuf Suparno, ketika dimintai tangapannya soal dijadikannya solo sebagai ajang terorisme, dengan singkat beliau menuturkan bahwa pihaknya prihatin sekali. Pihaknya menambahkan, sebagai aktivis muslim tidak ingin terjadi hal-hal seperti itu. Sebagai aktifis muslim kota Solo, Amar Makruf Nahi Munkar yang dilakukan tetap harus menjaga kondusifitas kota Solo.

“Solo jangan sampe di jadikan ajang kekacauan, ya kita jaga sama-sama”, paparnya.[eramuslim/forum-alishlah/kipasbis]

Selasa, 04 September 2012

Membongkar kontroversi di balik Densus 88 anti teror

KIPASBIS | Tragedi 11 September 2001 telah mengubah atmosfer perpolitikan dunia internasional, keruntuhan gedung pencakar langit World Tride Centre (WTC) memulai babak baru petualangan AS dalam berperang, “berburu” teroris. 


Perang terhadap teroris pun dikampanyekan “diprovokasikan” oleh AS dan memaksa dunia menentukan sikap diantara dua pilihan, bersama kekuatan baik (good) atau kekuatan jahat (evil), hitam atau putih, bersama kami “AS” atau bersama “Teroris”, either you are with us or either you are with terrorist”.

Tanpa pikir panjang, jari telunjuk AS langsung mengarah ke Afganistan sebagai negara yang bertanggungjawab atas peristiwa yang menewaskan sekitar 3.000 warga AS.


Walaupun serangan WTC tidak dalam bentuk agresi yang dilakukan oleh negara, dan hanya dilakukan oleh kelompok bersenjata (kelompok terorisme dalam bentuk kolektif) dan sampai saat ini masih menuai kontroversi keabsahan al-Qaidah, AS berhasil berhasil melobi sekutu-sekutunya untuk terlibat dalam proyek berburu teroris yang bercokol di negeri para mullah, Afganistan.

Taliban pun tumban dari pemerintahan Afganistan, korban manusia berjatuhan, situs Wikileas merilis korban meninggal akibat perang Afganistan, dari awal perang sampai Afril 2009, sekitar 20.000 korban jiwa.

Perburuan teroris belum selesai, masih berlanjut, 2003 AS, mengarahkan moncong senapannya ke Negeri 1001 Malam Irak, serangan ke negeri yang kaya minyak ini juga didasarkan asumsi, Irak memiliki senjata pemusnah massal yang sampai saat ini, tidak bisa dibuktikan kebenarannya oleh AS.


Saddam Husain  pun runtuh dan berakhir di tiang gantungan. Korban rakyat sipil yang tak berdosa harus bergururan dengan percuma. Angka korban meninggal sejak Irak terlibat perang sampai Afril 2009, mencapai angkah yang mencengangkan, 109,032 jiwa, 66% yang meninggal adalah warga sipil, dengan jumlah rata-rata yang meninggal tiap harinya sekitar 30 orang.

Dua negara tersebut di atas tidak bisa dipungkiri adalah negara muslim dan berada di kawasan yang diistilahkan oleh AS dengan kawasan Timur Tengah (Syarq Al-Ausath), lalu bagaimana dengan kawasan Asia Tenggara yang diistilahkan sebagai “The Second Front Of Terorism”, yang juga berpenduduk mayoritas muslim (Indonesia dan Malaysia)?.

Ada beberapa alasan yang mungkin menjadikan Asia Tenggara menjadi fokus AS dalam memberantas terorisme, antara lain:

1. Seperti yang diberitakan, ada koneksitas antara Asia Tenggara dengan serangan 11 September. Beberapa pembajak, termasuk petinggi-petingginya yaitu Muhammad Atta dan Zacarias Moussaoui yang sejauh ini diklaim AS memiliki keterlibatan dengan serangan11 Septermber.

2. Sebelum serangan 11 September terjadi, AS memperingatkan mengenai operasi kelompok-kelompok diangkapan militan di kawasan Asia Tenggara, termasuk beberapa diantaranya memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaedah, antara lain Al-Maunah (Malaysia), Laskas Jihad (Indonesia), MLF  Filipina (Moro Liberation Front).

3.Asia Tenggara adalah rumah dari umat Islam, di mana Indonesia dan Malaysia meyoritas berpenduduk Muslim.

Dengan ketiga faktor diatas, kemudian dengan peristiwa Bom Bali-Indonesia. 12 Oktober 2002, memperkuat kesan bahwa Asia Tenggara akan menjadi kawasan penting dalam “perburuan” AS memperluas hegemoninya dengan instrument “war on terrorisme”.

Densus 88 Anti Teror dan Penanganan Terorisme di Indonesia

Detasemen Khusus 88 Anti Teror atau Densus 88 adalah unit satuan khusus Kepolisian Negara RepublikIndonesia untuk penanggulangan terorisme di Indonesia. satuan khusus yang berkapasitas 400 personel ini mendapat pelatihan khusus dari mantan pasukan khusus AS dari FBI, CIA,  dan U.S Secret Service. Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004.

Detasemen berlambang burung hantu ini, personelnya direkrut dari polisi-polisi terbaik dari seluru Indonesia. Untuk mendukung operasional kerja anggota Densus 88, Detasemen ini dilengkapi dengan persenjataan lengkap dari AS, seperti senapan serbu Colt M4, senapan serbu Steyr AUG, HK MP5, senapan penembak jitu Armalite AR-10, dan Shoghun Remington 870, bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya.

kinerja Densus 88 banyak dipertanyakan di kalangan pengamat hukum dan masyarakat, dan banyak melihat Densus sering melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum (unprosedural) serta kurang bisa berkoodinasi dengan lembaga TNI dan BIN. Bukti yang paling nyata adalah kasus penanganan teorisme di Medan (Sumatera Utara) baru-baru ini. 


Dengan dipimpin langsung oleh Kalakhar BNN Komjen Gories Mere, Densus 88 Anti Teror ( yang sebenarnya sudah dibubarkan) menyerbu Bandara Polonia Medan tanpa mau melakukan koordinasi dengan TNI Angkatan Udara yang menjadi Tuan Rumah di Bandara Polonia Medan. Densus 88 Anti Teror pimpinan Gories Mere dikecam oleh TNI AU pasca penyerbuan Bandara Polonia Medan, TNI AU melayangkan surat protes secara resmi ke Polda Sumut.

Besarnya gelombang protes dan keluhan dari publik terhadap kinerja Densus 88, adalah bukti lain terhadap buruknya kinerja Densus 88, Keluhan-keluhan tersebut berupa tindakan salah tembak yang telah berulang berkali-kali, penangkapan yang keliru, dan proses persidangan yang didramatisir. 


Dan Jika hal ini tidak segera dibenahi maka densus yang sejatinya memberikan rasa keamanan bagi masyarakat malah menjadi momok yang menakutkan di mata masyarakat, dan tak ubahnya dengan teroris bertopeng aparat hukum dan menjadi “teror Negara” kepada masyarakatnya.

Setidaknya, ada beberapa hal yang dipertanyakan publik, terkait penangkapan yang tak sesuai prosedur hukum, tembak mati terhadap mereka yang terduga teroris, hingga persidangan yang penuh rekayasa. Tak terkecuali, keberadaan senjata yang ditemukan polisi di Tempat Kejadian Peristiwa (TKP), dan tudingan polisi terhadap aktivis Islam tertentu, atas sangkaan memberi bantuan pendanaan bagi teroris.

Kasus salah tangkap misalnya terjadi saat sejumlah aktifis pengajian Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) di Pejaten, pasar minggu, Jakarta Selatan. Dari seluruh aktifis yang ditangkap kemudian dibebaskan karena tidak memiliki bukti yang kuat adanya keterlibatan tindak pidana teroris. Maka tidak salah kalau kemudian pihak TPM mengatakan kalau penangkapan di Pejaten penuh dengan rekayasa dan didramatisir.

Kontroversi lain dari tindakan Densus 88 adalah menembak mati (extra judicial killing) terhadap mereka yang diduga teroris. Padahal masih dugaan, bukan tersangka apalagi terdakwa. Eksekusi di Cawang misalnya, dari tiga yang tertembak, dua dikenali, seorang lagi tidak dikenali identitasnya. 


Pertanyaannya, kalau belum dikenal, mengapa mereka dianggap teroris dan langsung ditembak mati. “Jika cara-cara seperti diteruskan, maka akan semakin banyak orang tak bersalah yang menjadi korban” kata koordinator TPM Mahendradata (Majalah SABILI NO 24 TH XV11 24 Juni 2010).


Tren menembak mati juga merambah pada orang-orang yang selama ini tidak dikenal sebagai teroris. Sebut saja kasus penyerbuan terhadap perangkai bunga Hotel Ritz Carlton, Ibrahim, di dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penyerbuan yang berlangsung selama 17 jam pada 7 Agustus 2009 itu, awalnya di dalam rumah itu diduga terdapat gembong teroris nomor satu Noodin M Top. 


Ternyata, setelah rumah itu hancur lebur, di dalamnya hanya ditemukan sesosok mayat si perangkai bunga yang malam itu. Ibrahim pun dilegitimasi oleh Mabes Polri sebagai anggota jaringan teroris tanpa ada pembuktian secara hukum (Majalah Sabili No. 6 TH XV11 4 November 2010). Begitupun dengan kejadian penembakan orang shalat di rumah Ust. Khairul  Ghazali di Jl Bunga Tanjung, Sumut, Ahad malam (19/92010).

Menurut Adnan Buyung Nasition, tindakan salah tembak Densus ini tidak sesuai dengan falsafah doktrin polisi dan tidak sesuai dengan hukum, sebab tugas polisi adalah menangkap dan menyerahkannya ke pengadilan, dan nanti pengadilan yang memberikan hukum dan vonis. Kalaupun terjadi perlawanan polisi atau densus hanya diperkenankan melumpuhkan dan tidak mematikan. Ujarnya saat ditanya oleh detik.com Jumat(12/3/2010).

Kejanggalan lain, juga diungkapkan Presidium Mer-C Jose Rizal Jurnalis, terkait latihan militer di Aceh. Awalnya, orang dikumpulkan untuk berjihad ke Palestina. Lalu datanglah Sofyan Sauri dari Brimob untuk melatih mereka, meski tidak ada pemberangkatan ke Pelestina. Tak lama kemudian, Sofyan kontak dengan orang-orang yang sudah dilatihnya untuk datang ke Jakarta.

Anehnya, Sofyan Sauri berhasil membawa orang-orang ini untuk berlatih menembak peluru tajam di Mako Brimob Kelapa Dua-Depok. “Coba bayangkan, Sofyan Sauri yang dikatakan disersi Brimob berhasil membawa orang-orang ini berlatih menembak di Mako Brimob. Jadi peristiwa Aceh ini direkayasa, untuk bargaining position dengan Amerika, termasuk mengalihkan perhatian dari kasus Century,” kata Jose Rizal. (Majalah SABILI No 24 TH XVII 24 Juni 2010).

Begitu juga dengan kasus penangkapan Ust. Abu Baasyir, yang penuh dengan rekayasa dan didramatisir.

Kepala Divisi HAM Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Ahmad Irwandi Lubis menegaskan, upaya hukum yang dilakukan Densus tidak boleh dengan cara yang justru  melanggar hukum, apalagi menafikan Hak Asasi Manusia (HAM). 


Hal itu diperlukan karena selain menjunjung asas praduga tidak bersalah (Presumtion Of Innocence), upaya pemberantasan terorisme juga harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan hukum dan masyarakat. Fenomena ini lanjut –menurut Irwandi- menunjukkan bahwa cara kerja Densus 88 sangat membabi buta dan dan unprosedural sehingga berimplikasi pada pelanggaran hukum.

Bahkan dalam pandangan Komisioner Komnas HAM Dr. Saharuddin Daming SH MH, memilih menghabisi tanpa putusan pengadilan yang berketetapan hokum tetap, Densus telah melakukan pelanggaran HAM berat. ”penjelasan pasal 104 UU N 39 Tahun 1999 tentang pelanggaran HAM berat adalah pembunuhan secara sewenang-wenang di luar hukum (Arbitrary/extra judicial killing” tandasnya.  (Majalah SABILI No 24 TH XVII 24 Juni 2010).

Dana Asing Untuk Densus 88

Selain mendapat pelatihan langsung dari AS, Densus juga mendapat kucuran dana langsung dari AS. Dalam situs World Policy Institut dimuat sebuah laporan mengenai bantuan AS ke Negara-Negara Asing paska peristiwa 11 Semptember (U.S. Military Aid and Arms Transfers Since September 11), Indonesia tepat berada di bawa India dan Pakistan sebagai negara penerima suntikan dana dari AS.  


Menurut sumber World Policy Institut, Indonesia tahun 2006 mendapat kenaikan bantuan dari program IMET (International Military and Education Training) sebanyak 800.000 dolar AS yang pada tahun 2004 Indonesia hanya mendapat bantuan sebesar 459.000 dolar AS dan Indonesia menerima bantuan 70 juta dolar AS dari Dana Bantuan Ekonomi, dan 6 juta dolar AS untuk dana anti-terorisme sebagai dana awal dari 12 juta dolar AS.

Hal yang sama juga terjadi pada negara tetangga yang menjadikan negaranya sebagai pangkalan militer AS di Asia Tenggara, Filipina, dengan imbalan bantuan dana yang sangat besar dari AS. Dalam laporan yang sama Filipina menerima antara tahun 2001 sampai 2005 total sebesar 157.300.000 dolar AS, untuk program FMF (Pendanaan Militer Asing/Foreing Militery Financial) sebanyak 145.800.000 dolar AS, dan 11.500.000 juta dolar AS untuk IMET (Bantuan Pelatihan Militer /International Military and Education Training). 


Tahun 2006 Manila menerima bantuan FMF 20 juta dolar AS, dan 2.9 juta dolar AS untuk program IMET. Hal ini dilakukan AS untuk membantu Filipina dalam memberantas Pejuang Muslim Moro MLF (Moro Liberation Front) yang dituduh teroris oleh AS.

Sementara sumber East Timur, menyebut Lembaga-lembaga AS yang memberikan bantuan dana Asing dengan program pemberantasan terorisme, lembaga tersebut antara lain.:

Regional Defence Counterterorrorisme Fellowship Program/Regional Defense Combanting Terrorism Program (CTFP/Program Mememerangi Terorisme dan Pertahanan Regional). Lembaga ini memberikan bantuan  dari tahun 2002 sampai dengan 2004, Indonesia telah menerima dana CTFP dalam jumlah melebihi Negara-negara penerima lainnya dan dua kali lebih besar daripada Filipina sebagai penerima terbesar urutan kedua. 


Di tahun 2005 Indonesia menerima sebesar 878.661 ribu dolar AS dana CTFP, dan tahun 2006 sebesar 715.844 ribu dolar AS, dan untuk tahun 2007 sebesar 525.000 ribu dolar AS.

NADR: Non-proliferation, Anti-terrorism, Demining, and Related Programs (Non-Proliferasi, Anti-Terorisme, Pembersihan Ranjau dan Program Terkait), Lebih dari 30 juta dolar AS telah dialokasikan bagi Indonesia sejak tahun 2002. Unit kepolisian Detasemen 88, unit Kepolisian khusus yang didirikan dengan pengawasan dari pemerintah Amerika Serikat dan dilatih dengan pendanaan dari ATA. 


Di tahun 2005 Indonesia menerima sebesar 275.000 dolar AS melalui dana NADR-EXBS dan pada tahun 2006 Indonesia menerima dari dana program yang sama sebesar 450.000 dolar AS, dan untuk tahun 2007 Indonesia menerima sebesar 1.180.000 dolar AS, dan tahun 2008 sebesar 465.000 dolar AS. (http://www.etan.org/news/2007/)

Harian The Age dan Sydney Morning Herald, juga menyebutkan, pemerintah Australia telah mengucurkan dana sebesar 40 juta dolar AS untuk pemberantasan terorisme, sedangkan 16 juta dolar AS diantaranya, rutin dikucurkan Australia setiap tahunnya kepada Densus 88 untuk agenda yang sama, bahkan untuk tahun 2004 bantuan itu meningkat 20 juta dolar AS per tahun. (Sabili Edisi November 2010).

Direktur Eksekutif Center For Indonesia Reform (CIR), Sapto Waluyo membenarkan fakta adanya bantuan dana asing yang mengalir ke kantong Densus, menurutnya beberapa waktu lalu, Human Rights Watch mendesak Pemerintah Australia menghentikan bantuan kepada Densus, hal ini dilakukan karena Densus dinilai melanggar HAM saat menangkap aktifis politik di Maluku dan Papua.

Dan dengan derasnya bantuan dana asing yang masuk ke kanton densus, ditambah dengan minimnya prestasi dan citra yang kurang baik dimata masyarakat, Densus mengajukan penambahan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebelumnya Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Anggaran Irjen Pol Pudjianto mengajukan anggaran operasional sebesar 30 triliun. Alokasi antara lain rp 58,3 miliar untuk dana alut dan alsus menangkal terorisme dan transnasional crime serta mencegah kejahatan terorganisir bersenjata api, dan Rp 30 miliar untuk dukungan operasional Densus. (Sabili edisi November).

Besarnya bantuan dan peran AS dan pihak Asing dalam tubuh Densus, menjadikan Densus terbelenggu oleh pesanan dan keingann pihak Asing. hal itu nampak dari kelakuan "intimidasi" Densus yang tidak berpihak kepada rakyatnya sendiri (umat Islam, dan lebih manut kepada keinginan pihak Asing yang memiliki pandangan stigmatisasi Islam sebagai teroris, radikal, dan fundamentalis, yang kemudian berkembang menjadi "teror negara" terhadap dunia pesantren dan masyarakat Islam.

Issu terorisme bukanlah permasalan pokok yang dihadapi dunia saat ini, issu terorisme yang dikampanyekan AS hanya wajah baru untuk menancapkan hegemoni AS dan melebarkan kekeuasaan dan pengaruhnya melalui penyebaran militernya. Hal pokok yang menjadi ancaman saat ini adalah ancaman kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang melanda dunia saat ini. Indonesia sebagai negara yang memiliki kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif  tidak bisa mandiri bertindak sebagaimana di era Bung Sukarno yang berani berteriak kepada Amerika " go to hell with your aids", selama negara ini masih tergantung oleh bantuan Asing.[islamicgeo|kipasbis]

#Pernah dimuat di buletin Sinai Mesir

Berbagi klik disini

Twitter Facebook Digg

 

Assalamualaikum Syehdara

Silahkan Join jika ingin berbagi pengetahuan

Untuk sementara forum belum tersedia

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!