KIPASBIS | Setelah 50 tahun menjadi teka-teki, misteri eksekusi mati Imam dan Pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo akhirnya terungkap.
Melalui bukunya 'Hari terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi mati Imam DI/TII', sejarawan dan budayawan Fadli Zon mengungkap Kartosoewirjo dieksekusi mati dan dikuburkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.
sejarawan penulis buku ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ mengatakan bahwa Kartosoewirjo adalah seorang pejuang. “Kartosoewirjo itu seorang pejuang. Kita harus mendudukkan sejarah secara proporsional. Meski Kartosoewirjo mempunyai kelemahan dan kelebihan, tapi dia adalah pejuang,” demikian menurut Fadli Zon dalam pertemuannya ketika meluncurkan bukunya itu.
Kartosoewirjo yang merupakan pimpinan gerakan DI/TII selalu diberitakan sebagai seorang pemberontak kepada NKRI. Buku-buku sejarah SD pada tahun 80-an banyak menyatakan bahwa Kartosoewirjo merupakan seorang penjahat kemerdekaan. Imam DI/TII yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia itu dieksekusi regu tembak dari TNI pada 12 September 1962 di Pulau Ubi kepulauan Seribu.
Eksekusi mati terhadap Kartosoewirjo dilakukan atas persetujuan Presiden Soekarno. Saat itu Bung Karno mengaku keputusan untuk menandatangani eksekusi mati itu merupakan salah satu hal terberat dalam hidupnya.
Bung Karno dan Kartosoewirjo sudah sejak lama bersahabat. Keduanya sama-sama berguru pada orang yang sama yakni HOS Tjokroaminoto. Saat itu keduanya tinggal di sebuah rumah kontrakan milik tokoh Sarekat Islam itu.
"Di tahun 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Di tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang amenurut azas agama Islam," kata Soekarno dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat' Karya Cindy Adams, Terbitan Media Pressido.
Perbedaan ideologi antara Soekarno dan Kartosoewirjo itu mengakibatkan keduanya berseberangan dan mengambil jalan masing-masing. Bahkan, Kartosoewirjo berusaha menumbangkan Soekarno dengan Pancasilanya.
Pada 7 Agustus 1949, Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya. Dengan militansi yang dimilikinya, Kartosoewirjo melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Saat itu, ia dengan DI/TII nya memilih hutan-hutan di pegunungan Jawa Barat sebagai basis perjuangan melawan pemerintahan Bung Karno. Sejumlah percobaan pembunuhan kepada Bung Karno pun dilakukan.
"Bunuh Soekarno. Dialah penghalang pembentukan negara Islam. Soekarno menyatakan bahwa Tuhannya orang Islam bukan hanya Tuhan. Soekarno bekerja menentang kita. Soekarno menyatakan bahwa Indonesia harus berdasarkan Pancasila, bukan Islam. Sebagai jawaban atas tantangan ini kita harus membunuh Soekarno," kata Kartosoewirjo di tahun 1950an.
Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno hampir berhasil dilakukan. Empat orang pria tiba-tiba melemparkan sejumlah granat ke arah Bung Karno. Saat itu, 30 November 1957, Bung Karno baru saja selesai menghadiri acara malam amal di Perguruan Cikini.
Bung Karno selamat dari kejadian itu. Kemudian saat hari raya Idul Adha percobaan pembunuhan kepada Bung Karno kembali terjadi.
Untuk menumpas gerakan sahabatnya itu, Bung Karno kemudian mengirimkan tentara dari Divisi Siliwangi dan satuan-satuan lain. Kartosoewirjo akhirnya berhasil ditangkap di Gunung Geber, Jawa Barat, pada 4 Juni 1962 dan dieksekusi mati tiga bulan kemudian setelah oditur militer mengetuk palu hukuman mati bagi Kartosoewirjo yang dituding melakukan makar terhadap NKRI.
Menurut buku itu, saat ditangkap, kondisi kesehatan Kartosoewirjo buruk sekali. Tubuh Kartosoewirjo diserang berbagai penyakit, seperti kurang darah, kurang makan, dan bengkak pada lambungnya.
Setelah salat taubat, kemudian tangan Kartosoewirjo diborgol petugas dan dimasukkan ke dalam sela, tempat di mana ia menunggu untuk dibawa dengan kapal ke Pulau Ubi Sebelum diangkut kapal menuju Pulau Ubi di gugusan Kepulauan Seribu, dia melakukan shalat taubat.[islampos/kipasbis]
















0 komentar:
Posting Komentar