Di
Indonesia, para pengemban ide-ide Zionis ini tak lagi berbaju organisasi Zionis
tetapi berbaju liberal dan organisasi-organisasi sosial. Jargon yang di
suarakan juga sama yakni kebebasan, persamaan, toleransi, demokrasi, HAM,
Pluralisme, dan sejenisnya. Tujuan jangka panjangnya adalah mengakui
keberadaanya kaum Zionis sebagai satu entitas politik yang harus di akui.
Itulah Israel Raya
“Kooptasi
gerakan zionis Internasional menyusup hingga ke semua kalangan. Mereka bergerak
untuk kepentingan Israel Dengan jargon-jargon yang terkesan indah.”
Banyak
tokoh yang muncul ke permukaan dengan pencitraan, Salah satunya ialah Dahlan
Iskan, Mentri Badan Umum Milik Negara (BUMN). Begitu menjabat, banyak gebrakan
di lakukan sehingga menuai pujian dari berbagai kalangan. Namanya melambung.
Belakangan Dahlan sudah mulai digadang-gadang sebagai calon Presiden Indonesia.
Lions
Club sendiri adalah sebuah klub yang di yakini oleh para ahli menginduk kepada
Freman sonry-tangan dari Zionisme Internasional. Tidak semua orang bisa menjadi
anggotanya. Hanya orang yang di anggap berhasil/sukses dan berpengaruh yang
bias masuk ke dalamnya. Lions club secara lahiriah menyerukan ide “Ikatan
Kemanusiaan” dan menghilangkan diskriminasi antara umat manusia. Namun hakikat
yang sebenarnya adalah organisasi ini merupakan mantel selubung Zionisme.
![]() |
| Lions Club "kaki tangan Freemansory" |
Lions Club, merupakan kaki tangan Zionis. Rotary Club mempunyai persamaan besar dengan Freemasonry.
Di
tengah jabatannya yang sekarang, ia pun tetap melanjutkan rencana privatisasi
BUMN. Satu per satu BUMN yang ‘sehat’ masuk dalam rencana penjualan. Pembelinya
tidak lain adalah kapitalis asing.
di
media yang di pimpinnya yakni Jawa Pos Grup,Dahlan memberi tempat yang
eksklusif bagi kelompok Liberal, Ulil dan kawan-kawan. Mereka mengisi
rubrik ‘Kajian Utan Kayu, yang pesan-pesannya kental akan nuansa pluralisme dan
deislamisasi.
Ketika berbicara
soal utang, Dahlan Iskan membuat "penyesatan" luar biasa ...
Hingga April
2012, utang pemerintah sudah mencapai Rp1.903 triliun. Data Bank Indonesia
tahun 2012 menyebutkan, pada tahun 2006 total utang luar negeri Indonesia
sebesar 132,63 miliar dollar AS, namun pada 2011 utang itu sudah membengkak
menjadi 221,60 miliar dollar AS.
ketika berbicara soal utang, Dahlan Iskan
membuat “penyesatan” luar biasa. utang
negara yang terus meningkat tidak disertai dengan perbaikan kondisi dan
kualitas hidup rakyat. Artinya, penggunaan utang itu belum tentu untuk
menggerakkan perekonomian yang menyejahterakan rakyat.
sejarah
utang—terutama yang berhubungan dengan negara-negara dan lembaga
imperialis—adalah “jebakan” alias perangkap (debt trap). Utang luar negeri,
seperti ditulis oleh Susan George dalam buku “Debt Boomerang: How Third World
Debt Harms Us All”, merupakan suatu mekanisme yang dibuat oleh negara maju
(pendonor) untuk memaksa negara penerima (peminjam) mengikuti aturan-aturan
atau langkah-langkah yang mereka paksakan.
Negara yang
‘terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus menggenjot ekspornya—terutama
ekspor bahan mentah—dan melakukan penghematan pada pengeluaran pemerintah dan
belanja kesejahteraan sosial. Ini yang terjadi di sejumlah negara Amerika latin
satu dekade lalu dan sekarang terjadi di Indonesia. Mungkin
kita akan bangga dengan ekspor yang meningkat, akan tetapi ini tidak lebih dari penjarahan kekayaan alam.
Di samping
itu, untuk membayar utang, negara penerima pinjaman harus melakukan penghematan
besar-besaran: pemangkasan subsidi, privatisasi layanan publik, dan lain-lain.
Bahkan, tidak sedikit disertai dengan privatisasi BUMN. Akibatnya, rakyat
dipaksa membayar mahal akses kebutuhan dasarnya (pendidikan, kesehatan, air
bersih, listrik, makanan, dan lain-lain)
Jadi,
alih-alih kekayaan nasional Indonesia meningkat, utang luar negeri justru
menjebak Indonesia dalam “lingkaran krisis”
Setali
tiga uang dengan Lions Club, ada juga Rotary Club. Organisasi yang induknya
juga sama dengan Lions Club ini menancapkan kukunya di seluruh dunia termasuk
Indonesia. Organisasi ini juga merekrut orang-orang berpengaruh di suatu
wilayah menjadi anggotanya. Sepak terjang kaki tangan Zionis di Indonesia
sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Mereka
merekrut orang lokal untuk mempropagandakan slogan mereka yakni HAM, demokrasi,
Sikap moderat, dan toleransi. Apalagi Belanda terkenal sebagai tempat pertemuan
Zionis Internasional sejak dulu kala.
Dr
Th. Stevens, seorang sejarawan Belanda, dalam bukunya: ‘Tarekat Mason Bebas dan
Masy`rakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764- 1962’ menyebut gerakan-gerakan
kesukuan dan berbasiskan sekularisme,pluralisme dan liberalisme dan anti islam
di gerakan oleh tokoh-tokoh anggota jaringan Zionis internasional. Dalam buku
yang peredarannya terbatas itu di sebutkan bahwa beberapa tokoh yang kini di
sebut sebagai pahlawan adalah kaki tangan Zionis, Sebut saja Boedi Oetomo, yang
tokoh kuncinya adalah anggota jaringan Zionis Internasional, seperti Pangeran
Ario Notodirejo yang merupakan anggota Loge Mataram dan ketua Boedi Oetomo
antara tahun 1911-1914. Nama lain yang di sebut dalam buku itu antara lain
Raden Adipati Tirto Koesoemo, Bupati Karang Anyar dan menjadi anggota Lodge
Mataram sejak tahun 1895. Juga ada nama Mas Boediarjo, Raden Mas Toemenggoeng
Ario Koesoemo Yoedha, dan salah satu tokoh kemerdekaan Dr Radjiman
Wedyodiningrat (Ketua Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia), Ada pula
nama Sultan Hamengkubuwono VIII, RM AAA Tjokro Adiekoesoemo,RAS Soemiro
Kolopaking Poerbonegoro Paku Alam VIII, dan juga Raden Said Soekanto. Nama
terakhir ini adalah kepala kepolisian RI pertama yang menjabat pada tahun 29
September 1945 hingga 14 Desember 1959.
Keberadaan
jaringan Zionis Internasional ini pernah di bubarkan dan di larang oleh
Presiden Soekarno melalui Lembaran Negara dengan Nomor 18/1961, bulan Februari
1961, yang di kuatkan melalui Keppres no.264 tahun 1962.
Di
era Abdurrahman
Wahid berkuasa,
semua putus dengan Israel itu dihidupkan kembali. Gusdur mencabut Keppres yang
di keluarkan oleh Soekarno itu melalui keppres No.69 Tahun 2000 tanggal 23 Mei
2000.
Walhasil,
gerakan kaum Zionis ini kian leluasa di Indonesia. Apalagi memasuki era
Reformasi. Semua kran dibuka dan tidak ada filter sama sekali terhadap racun
yang ingin di sebarkan masuk ke Indonesia. Hubungan kerja sama dagang dengan
orag-orang Zionis sudah kasat mata. Misalnya: bagaiman Grup Bakri yang
menggandeng perusahaan Rothschild-Yahudi Amerika.
Di
Indonesia, para pengemban ide-ide Zionis ini tak lagi berbaju organisasi Zionis
tetapi berbaju liberal dan organisasi-organisasi sosial. Jargon yang di
suarakan juga sama yakni kebebasan, persamaan, toleransi, demokrasi, HAM,
Pluralisme, dan sejenisnya. Tujuan jangka panjangnya adalah mengakui
keberadaanya kaum Zionis sebagai satu entitas politik yang harus di akui.
Itulah Israel Raya.
Pada
hakikatnya siapapun yang cermat menelusuri sepak terjang mereka sejak awalnya
tidak akan terkejut.
Memang
banyak sekali versi-versi tentang pengkafiran orang-orang yang berbuat salah
kaprah seperti Jokowi ini. Ada yang mengkafirkannya ada yang belum berani.
Padahal dalam ayat al-Qur’an banyak tertera larangan memberikan kepemimpinan
serta kepercayaan kepada orang kafir, atau yang disebut dengan tawalli
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”( QS. Al-Maidah 5:51)
"
Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka". (QS. Al Baqarah: 120).
(Kaab as-Sidan/ globalmuslim/akhirzaman/parapendusta)
















0 komentar:
Posting Komentar